Monday, 10 March 2014

Bulan Pagi Hari



Oleh Yuni Kristyaningsih Pramudhaningrat



Bulan tidak tampak pagi ini.

Aku sangat suka bulan di pagi hari. Terlihat sangat pucat dan rapuh. Perubahan warna langit di sekitarnya mempertajam kepucatan warna peraknya. Terlihat indah luar biasa. Seperti sebuah obyek dalam lukisan. Mungkin karena sebentar lagi akan tidak terlihat makanya jadi indah. Barangkali sisa waktu yang singkat membuat keindahan terpancar dengan cara yang lebih intens. Setiap melihat bulan di pagi hari aku berpikir perpisahan tidaklah selalu harus diwarnai dengan kesan yang menyedihkan. Barangkali aku seorang dengan hati yang rawan dan sentimentil atau mungkin juga aku memang punya suatu perasaan tertentu terhadap sebuah perpisahan.

Bulan tidak tampak pagi ini.

“Tidak bisa tidur lagi?”

Aku sedang duduk di relung jendela, memandangi langit, ketika kulihat dia datang. Gaun tidur putihnya melambai-lambai. Betapa bagusnya seandainya dia menjadi bagian dari bintang-bintang itu. Sesuatu selalu kelihatan lebih indah jika dipandang dari kejauhan.

“Bukan tidak bisa tidur,” kataku, “hanya tetap bangun.”

Dia menyodorkan segelas minuman hangat. Ketika kuminum ternyata rasanya agak asam.

“Lemon peras dan madu. Untuk flumu,” katanya.

“Kurasa ini tidak manjur lagi untukku.”

“Biasanya selalu manjur.”

“Kalau flu aku minum wine, red wine lebih bagus, yang dipanaskan.”

“Seharusnya kau tidak minum itu.”

“Aku tidak punya waktu untuk sakit.”

Kudengar suara tawanya yang lembut.

Bulan benar-benar tidak tampak pagi ini. Bulan seperti seorang aktris yang sangat profesional. Kedatangan dan kepergiannya, kemunculan dan kelenyapannya sesuai benar dengan skenario. Dia begitu menghayati bagaimana dia harus tampil dengan glamour dan sangat menawan ketika sedang purnama. Dia juga meresapi benar bagaimana cara menghilang dengan begitu bergaya saat bulan mati. Entah apakah dia mendapatkan kebahagiaan dan ketenaran dengan membuat orang terpukau, terpesona dan terluka karena kedatangan dan kepergiannya.

“Kau menulis puisi tentang ini?” Aku bertanya. Aku tahu dia menulis puisi tentang apa saja. Tentang bunga dan capung, tentang sungai dan daun yang luruh, tentang hujan dan rumput, tentang semuanya.

“Apa?”

“Bulan di pagi hari.”

“Puisi rasanya tidak. Hanya percakapan dua orang dalam novelku. Seorang penjual kue serabi dan suaminya. Kau mau kukutip kata-kata mereka?”

“Tidak. Aku tidak membaca novel.”

“Sayang sekali,” katanya. Lalu dia melihat ke langit dan merenung-renung. “Tidakkah kau berpikir kalau bulan di pagi hari itu seperti menambahkan saus sambal di atas telur mata sapi?”

“Saus sambal di telur mata sapi?”

“Membuat perut mual.”

“Apa?”

“Ini menyedihkan, honey. Benar-benar menyedihkan. Tidakkah kau tahu? Memandang bulan di pagi hari. You are hopeless.”

Aku meminum minuman di gelasku. “Apa yang salah dari mengagumi sesuatu yang indah?”

“Karena bisa mengantarmu pada banyak hal.”

“Kurasa itu sesuatu yang menyenangkan.”

“Kurasa itu berarti masalah.”

Kulihat langit mulai menampakkan warna birunya dengan perlahan kecuali pada bagian timur karena warna matahari mengubah warna langit menjadi keemasan.

“Aku pergi hari ini.”

“Kau seharusnya tetap disini menjagaku.”

“Aku tidak bisa menjaga orang lain. Aku bahkan tidak bisa menjaga diriku sendiri.”

“Kau bisa menemani aku.”

“Setiap orang pada akhirnya harus seorang diri.”

“Kalau kau anakku kau tidak akan selalu pergi.”

“Aku selalu pergi karena aku bukan anakmu.”

“Aku berharap kau anakku.”

“I am not.”

Ayahku dan wanita ini bersahabat. Ibuku dan wanita ini hamil pada saat yang bersamaan. Ibuku berhasil melahirkan aku meski dengan susah payah tapi wanita ini sakit dan anaknya meninggal. Dia terlalu sakit untuk bisa mempunyai anak lagi. Ayahku bilang luka di hatinya karena kematian anaknya tidak pernah dapat disembuhkan. Aku selalu membuat wanita ini teringat pada anaknya. Tiap tahun, di hari ulang tahunku, sejak ulang tahunku yang pertama, dia mengirimkan hadiah untukku. Dan selalu disertai sebuah puisi. Selalu puisi yang sama setiap tahunnya.



I dreamt that I dwelt in marble halls

With vassals and serfs at my side

And of all who assembled within those walls

That I was the hope and the pride.



I had riches too great to count, could boast

Of a high ancestral name

But I also dreamt, which pleased me most

That you loved me still the same.



Dia selalu memanggilku Almira, nama yang dia siapkan untuk anak perempuannya, bayinya yang meninggal itu kembar laki-laki dan perempuan, padahal namaku bukan Almira. Kepada semua orang dia mengenalkan aku sebagai Almira, puterinya. Menurutku itu memalukan. Mengakui puteri orang lain sebagai puterinya. Tapi dia tidak kelihatan merasa malu.

Ibuku menyuruhku mengunjunginya paling tidak sekali dalam setahun. “Bersikaplah manis padanya. Selalu jaga tata krama. Dia menaruh hormat hanya pada orang yang tahu bagaimana menjaga sikap.” Begitu pesan ibuku setiap aku mau mengunjunginya. Kurasa ibuku akan pingsan seandainya tahu aku memanggil wanita itu dengan kau saja dan bukannya anda. Kepada ibuku wanita itu selalu berkata “ Almira is really a sweetheart.” Dan ibuku tentu saja percaya.

Wanita itu berlidah tajam. Dia tidak pernah kesulitan mengatakan apapun yang ada di dalam pikirannya. Dia tidak pernah berkata kasar tapi mengatakannya dengan cara yang membuat orang merasa telah melakukan perbuatan yang tolol. Waktu umurku lima belas tahun, dan sedang mengunjunginya selama dua minggu, suatu hari aku bertemu seorang anak laki-laki yang menjengkelkan. Begitu menjengkelkannya hingga aku terdorong untuk memukulnya. Waktu aku pulang dengan baju penuh lumpur wanita itu memandangiku tanpa mengatakan apa-apa.

Aku yang tidak mau dikatakan berbuat hal yang konyol berkata, “ Aku memukul orang yang pantas dipukul.”

“Seorang raden ajeng tidak berbuat seperti itu.”

“Aku bukan raden ajeng.”

“Apakah itu pantas disyukuri?” Dia mengucapkan pertanyaan itu dengan raut wajah yang menurutku lebih menjengkelkan dari raut wajah Mr Bean ketika menyebabkan kesusahan orang lain.

Saat semuanya baik-baik saja dia adalah seorang wanita yang manis. Tapi ketika ada yang tidak beres hal pertama yang dia lakukan adalah melihat apa penyebab ketidakberesan itu dan memastikan orang yang melakukannya bertanggungjawab. Kurasa dia adalah jenis orang yang membuat orang lain enggan berurusan dengannya.

Dia adalah gabungan yang aneh dari intelektualitas, selera humor yang sarkastis dan keinginan yang kuat untuk membekukan waktu. Dia lulusan sebuah perguruan tinggi di Inggris, menguasai beberapa bahasa dan sangat suka membaca buku tapi dia masih memakai kebaya sutera dan kain batik dan masih menempatkan dirinya dalam posisi konvensional sebagai seorang wanita.

Dia menetapkan standar yang tinggi atas segala sesuatu. Tata kramanya tidak ada cacat celanya. Dan itu bukan tanpa sebab. Ayah dari kakek buyutnya adalah raja yang pernah berkuasa di sebuah monarki kecil di tanah Jawa. Aku pernah iseng memasukkan nama ayah dari kakek buyutnya itu ke search engine Google dan mendapat ulasan yang panjang lebar tentang seorang pria yang dilukis sedang duduk di singgasana. Rumah yang ditempati keluarga wanita itu sebenarnya adalah rumah pemberian pria itu kepada salah satu puterinya. Berada di dalam rumah itu membuatku merasa mendengar bunyi gamelan ditabuh dengan irama yang menghanyutkan dari sebuah lagu dari masa yang jauh.

“Kenapa kau selalu pergi?”

“Because I have to.”

“Apakah kau tidak mencintaiku?”

Suatu hari wanita itu memberiku hadiah kalung dari berlian dan ruby, aku lahir di bulan Desember dan birthstone untuk bulan Desember katanya adalah ruby. Aku yang merasa tidak melakukan hal yang layak membuatku diberi hadiah semacam itu tentu terheran-heran. Wanita itu berkata “Seorang wanita harus memakai perhiasan terutama ketika dia memasuki usia dimana dia sudah pantas menerima lamaran pernikahan.”

“Apa kau juga mau mengatur pernikahanku?” Meski tidak terlalu terkejut aku merasa itu adalah sebuah kekurangajaran. “Itu tindakan kriminal.”

“Tidak. Hanya memastikan kamu tampil sebagaimana yang seharusnya.”

“Kau melakukan ini karena aku puteri ayahku?”

“Sebagai pribadi kau istimewa.”

“Kau mencintai ayahku?

“Tentu saja.”

“Kenapa tidak menikah dengannya?”

Dia memandangiku seolah pertanyaan itu sangat aneh. “Kenapa aku harus menikah dengannya?” Dia memperlihatkan raut muka heran. Lalu kerutan di alisnya menghilang. “Aku menaruh rasa hormat pada ayahmu. Jangan merusaknya dengan sebuah kata yang tidak tepat penggunaannya.”

Sejak itu aku tahu bahwa penyebab, rupa dan perwujudan cinta itu bisa begitu partikular di dunia ini.

“Apakah kau tidak mencintaiku?” Dia mengulang pertanyaannya.

“Barangkali aku memahami cinta seperti caramu memahaminya,” kataku, “maka dari itu aku selalu harus pergi meninggalkanmu. Kau selalu membiarkan orang yang sangat mencintaimu pergi meninggalkanmu, kan? Seharusnya kepergianku bukan sebuah masalah.”

Beberapa tahun setelah anaknya meninggal, suatu pagi wanita itu bangun, mengepaki barangnya lalu pergi dari rumah suaminya dan kembali ke rumah keluarganya. Ketika suaminya menjemput dia cuma berkata, “Aku adalah ketidakadilan bagimu.” Mereka berpisah tanpa sebuah perceraian.

Pria itu sangat mencintainya dan selalu berbuat baik kepadanya. Tetapi bahkan seorang pencinta yang paling gila sekalipun tidak selalu bisa bertahan menghadapi sebuah kesendirian. Dua tahun kemudian pria itu menikahi seorang wanita dan memiliki anak darinya. Sempat kusangka itu akan membuatnya kehilangan rasa hormatnya kepada pria itu untuk selama-lamanya tapi ternyata dia tetap datang menemani pria itu dalam acara-acara keluarga, menghadapi semua orang dengan gayanya yang elegan dan bersikap sebagaimana layaknya seorang puteri. Menurutku dia wanita paling tolol di dunia.

“Sebuah kepergian selalu adalah sebuah masalah, Almira.” Dia memandang langit yang mulai terlihat berwarna biru. “Aku tidak pernah yakin apa kau akan pulang.”

“Selama ini aku selalu pulang.”

“Kita tidak tahu apa yang akan terjadi kemudian. Itulah kenapa kita punya rasa kekhawatiran.” Dia menyentuh ujung rambutku yang bergelombang dan kucat warna cokelat. “Kau tidak tahu apa yang kurasakan saat melihatmu pergi.”

“Aku bisa pergi saat kau tidur.”

Padahal aku tidak pernah bisa tinggal bersamanya. Aku selalu ingin pulang kepadanya namun begitu sudah melihat wajahnya aku ingin segera pergi.

“Kau tahu kenapa aku selalu ingin pergi?”

“Karena kau tidak cukup mencintaiku untuk bisa tinggal bersamaku?”

“Karena kau seperti ayahku. Kau bicara seperti caranya bicara. Kau berpikir seperti caranya berpikir. Kau bahkan benci telur mata sapi seperti dia membencinya. Barangkali semua itu yang menyebabkan kalian menjadi sahabat, bahwa kalian sangat mirip satu sama lain. Tapi itu juga yang menyebabkan aku tidak bisa tinggal bersamamu sekaligus juga tidak bisa benar-benar meninggalkanmu.” Aku mengusap bibir gelas dengan jariku. “Aku membicarakan ini dengan profesorku. Katanya itu adalah perasaan seorang anak. Aku tidak mengerti. Aku kan bukan anakmu.”

Dia tidak mengatakan apa-apa. Langit sudah cukup terang sehingga warna biru langitnya sudah benar-benar dapat terlihat. Udara pagi membuat hidungku lega dan kepalaku menjadi ringan. Mungkin fluku telah dikalahkan oleh perasan lemon dan madu.

“Akan kubuatkan sarapan,” katanya ketika langit telah benar-benar terang. “Seseorang tidak seharusnya pergi dengan perut kosong. How would you like your eggs?”

“Sunny side up, please.”

“Aku sangat heran dengan selera makanmu itu.”

Aku tertawa.

Bulan tidak tampak pagi ini dan kurasa itu bukanlah sebuah masalah yang perlu dibesar-besarkan.


Catatan:

1. Puisi dalam cerpen ini dikutip dari lagu I dreamt that I dwelt yang terdapat dalam salah satu cerpennya James Joyce.

2. Pernyataan tentang cinta dikutip dari buku Bermain-main Dengan Cinta karya Bagus Takwin. Kutipan lengkapnya adalah Ada cinta di dunia itu universal; tetapi seperti apa cinta dan dari mana asalnya itu partikular

3. How would you like your eggs? adalah pertanyaan yang biasa ditanyakan oleh pelayan restoran ketika seseorang memesan sarapan dengan menu telur mata sapi (Eil de Boeuf) Merupakan pertanyaan untuk menanyakan tingkat kematangan kuning telur yang diinginkan

4. Sunny side up adalah telur mata sapi yang dimasak dengan cara telur dipecahkan di atas penggorengan, telur tidak dibalik, kuning telur masih utuh dan masih encer di dalam. Supaya tidak terlalu mentah kuning telur ini sering diperciki minyak atau lelehan mentega.


Cerpen ini dimuat di Majalah Horison edisi Pebruari 2011

Sebenarnya Aku Mencintaimu Hanya Saja Aku Tidak Mengatakannya

Oleh Yuni Kristyaningsih

Itu berkaitan dengan harga diri. Ya, itu benar. Seseorang memang harus menghadapimu dengan martabat dan harga diri supaya kamu tidak menganggapnya sampah. Mencintai dan dicintai adalah masalah bagiku. Karena apapun yang kau dapat harus selalu kau bayar baik secara tunai maupun kredit. Dunia ini persis pasar, ya kan? Apapun harus ada transaksi yang jelas. Kalau tidak maka kamu jadi pencuri. Hukuman bagi pencuri itu sudah jelas. Jika ada empat orang saksi, kamu sudah pantas tidak memiliki tangan lagi. Tapi sampai saat ini aku belum juga mengerti apa hukuman yang pantas untuk seseorang yang mencuri kepolosan hati.

Setelah bertemu denganmu aku tidak polos lagi tapi aku tidak bisa menuduhmu mencuri. Tidak ada bukti. Tidak ada saksi. Hanya Tuhan saja yang tahu bagaimana kamu menarik hatiku hingga aku tidak memilikinya lagi.

Orang yang tak memiliki hati pasti dia bukan manusia lagi. Tapi entahlah. Setelah hatiku kau curi aku malah jadi lebih manusiawi.

Aku sedang membangun mimpi mengenai mengenai suatu negeri ketika kamu datang.

Kerajaan itu berada di sebuah lembah. Lembah yang sangat subur dan damai. Disana kamu bisa menemukan hutan pinus, sungai sejernih air mineral, padang berselimutkan bunga rumput berwarna kuning dan ilalang berbunga putih, ladang-ladang subur dan orang-orang yang ramah.

Di kerajaan itu aku adalah seorang puteri. Aku tinggal di kastil dengan puncak menara seperti siung bawang. Kalau kau menginap disana kau harus mengikatkan sehelai sapu tangan biru di pegangan pintumu agar kamu tidak kembali ke kamar yang salah.

Disana aku dihomati dan disayangi walaupun mungkn diluar sana au adalah nobody. Kurasa aku memiliki apa yang diinginkan para wanita. Kecantikan, kekayaan, harga diri dan benda-benda yang bisa disayangi atau dipakai tidak lebih dari sekali atau dimiliki sekedar untuk koleksi.

Tiap hari aku mengerjakan apa saja yang kusenangi: memetik bunga, menyulam, melukis, menulis surat, menari, menunggang kuda dan mendengarkan orang-orang bercanda.

Saat rambutku memanjang menjadi puluhan senti, saat aku mulai kehilangan apa yang disebut sebagai rona kekanakan di pipiku, saat lingkar dadaku mulai bertambah dari hari ke hari, aku mulai berkhayal tentang seorang pangeran yang menunggang kuda liar berwarna hitam bersurai panjang. Jubah kebesarannya berwarna hitam. Dia selalu membawa pedang yang bergagang batu garnet ungu tua. Rambutnya hitam seperti langit malam dan matanya pun hitam seperti buah zaitun yang masak. Kami bertemu di sebuah pertarungan melawan raksasa lalu kami jatuh cinta, menikah dan hidup bahagia selamanya.

Tapi aku lupa memikirkan bahwa perlu ada bagian buruk dalam sebuah cerita agar bisa disebut menarik. Lagipula tak ada orang yang bisa selalu datang pada saat dibutuhkan atau mengatakan sesuatu persis seperti yang ingin didengar atau memberi sesuatu yang diidamkan tanpa diberi petunjuk lebih dulu. Sementara aku ingin semua berlangsung tanpa perlu berkata. Tentu saja tidak ada orang seperti itu. Tapi mempertimbangkan sesuatu dengan otak adalah kelemahan seorang pemimpi. Sepertiku.

Pada saat kamu datang kukira mimpi telah jadi kenyataan tapi perlu banyak waktu bagiku untuk menyadari bahwa kau telah menghancurkan mimpiku.

Kamu datang persis seperti pangeran itu. Dengan mata buah zaitun dan jaket hitam seperti mafia. Entahlah tapi sepertinya kamu menyembunyikan sesuatu di balik bajumu. AK-47 semi otomatis atau mungkin Magnum 44.

Waktu itu aku sedang bermain di padang, merangkai tangkai demi tangkai bunga rumput menjadi mahkota. Sendirian saja. Sendirian membuatku lebih bisa berpikir jernih. Orang bilang wanita tidak bisa menggunakan otaknya dengan benar tapi aku sungguh-sungguh bisa berpikir.

Kamu muncul dari balik rumput ilalang. Melihatku. Menatapiku. Mendekatiku.

“Kamu siapa?” tanyaku.

“Seseorang.”

Lalu kekuatanmu membuat pita-pita yang terpasang di rambut dan gaunku berserakan kemana-mana.

“Kau berhutang budi padaku,” katamu, “karena hari ini aku membiarkanmu hidup. Akan kupastikan kau membayarnya nanti.”

Kamu mengambil mahkota bunga yang baru saja kubuat dan memasangnya di kepalamu seolah-olah kamu adalah raja lalu setelah itu kamu pergi.

Besoknya kamu menemui ayahku. “Aku ingin menikah dengan puteri anda,” katamu yang kudengar dari atas tangga.

Semula ayah menolak tapi kamu memaksa. “Anda akan menikahkan kami dengan sukarela atau dengan terpaksa?”

Malam setelah kamu menikahiku terjadi badai. Tangkai-tangkai bunga patah, rumput-rumput tercabut dan sungai meluap. Tapi paginya, saat jendela-jendela mulai dibuka, matahari bersinar keemasan dan semuanya memulihkan diri dengan sangat cepat menjadi seperti tidak terjadi apa-apa.

Tapi aku kan manusia. Tidak pernah bisa pulih dengan sendirinya.

Kamu membawaku ke kastil yang lain. Dua kali lebih megah. Dua kali lebih indah. Seratus kali lebih suram. Seratus kali lebih menakutkan.

Kamu membuat garis di lantai pada hari pertama aku datang lalu menyusun mutiara-mutiara air tawar di sepanjang garis itu.

“Ini adalah garis hidup. Hidupmu,” katamu. “Kau tidak punya hak untuk keluar karena keluar berarti mati. Mengerti?”

Tiap hari kau memeriksa garis itu dan ketika mendapati mutiara-mutiara itu bergeser atau hilang maka kamu pun berubah menjadi setan.

Kamu menganggap aku adalah milikmu padahal kamu tidak punya alasan untuk itu. Meskipun kamu menikahiku. Bahkan meskipun seandainya aku mencintaimu. Aku tak mengenal cinta. Aku hanya mengenal dirimu. Tapi cinta dan dirimu tentunya sangat berbeda.

Suatu kali aku melongok ke luar jendela. Nun jauh disana, di balik tembok kastil ada seseorang yang sedang memancing bersama seorang anak kecil. Kelihatannya mereka menganggap kegiatan itu sebagai suatu hal yang menyenangkan. Kadang mereka tertawa bersama, kadang berangkulan lalu ketika matahari hampir tenggelam mereka berjalan pulang sambil bergandengan tangan menyusuri tepian padang ilalang.

Aku memandangi mereka. Tersenyum. Mereka adalah pemandangan indah. Kemudian aku melukisnya. Menggambar helai demi helai rumput di dekat mereka, melukiskan setiap riak danau, mewujudkan bagaimana angin mempermainkan rambut mereka, berusaha membuat nyata sebuah keindahan.

Tiap kali melihat mereka aku tersenyum. Kadang juga tertawa. Kebahagiaan mereka begitu besar sampai tertular padaku.

Kusembunyikan lukisan itu di gudang. Hanya kadang-kadang kalau aku perlu tersenyum aku melihatnya.

Suatu ketika aku menemukan lukisan itu berceceran menjadi beberapa bagian dan kamu ada disana memagang sebuah pedang berkilau perak.

“Siapa itu yang kau coba sembunyikan di kegelapan hatimu?” tanyamu.

“Hanya seseorang yang berbahagia,” jawabku.

“Kebahagiaan adalah adonan roti. Kau tinggal mencetaknya di loyang lalu memanggangnya. Kau bisa menghiasnya dengan stroberi atau kiwi. Lalu selesai.”

“Terlalu banyak dicampur ragi sehingga menjadi asam.”

Lalu dengan hati terbakar-bakar kamu mengobrak-abrik semua barang. Mengacungkan pedang di depan hidungku.

“Apakah dia lebih berharga dari nyawamu?”

Kemudian setelah itu musim dingin datang dalam hidupku. Kamu yang membuatnya terasa seperti itu.

Aku berusaha melongok ke luar jendela. Berusaha menemukan pemandangan indah itu. Tapi tidak ada.

Kamu tertawa di belakangku. “Sekarang sel-selnya mungkin sedang menghidupi bunga-bunga teratai.”

Aku menangis. “Kenapa kau membenciku?”

“Karena kau tidak menyerahkan cintamu kepadaku.”

Lebih baik aku mati daripada harus mengatakan aku mencintaimu.

Dulu seseorang sepertimu pernah datang pada nenekku. Mereka bernyanyi di padang dan nenek membiarkan hatinya dicuri.

Nenek memujanya dan mereka sering berbagi matahari tenggelam di ujung padang. Lalu pria itu pergi dan tak pernah kembali. Orang-orang tutup mulut mengenai hal ini tapi aku tahu itu terjadi karena nenek membiarkan pria itu tahu kalau dia mencintainya. Sekarang hari-harinya berakhir seperti menanti matahari bertemu dengan rembulan.

Cinta adalah iblis yang membuat hatimu seperti sarang termit dengan permukaan yang tergerogoti dalam bentuk mengerikan.

Meski sedikit, bersamamu ada juga waktunya untuk tertawa.

Di suatu fajar yang buta, aku memanjat atap loteng yang curam. Kaki telanjangku terasa kaku oleh embun yang hampir mencapai titik beku. Aku merasa sangat senang kalau bisa meluncur dari ata sini. Kemudian tiba-tiba kamu muncul. Tampangmu mirip Vlad Dracul haus darah.

“Kemari kau!” teriakmu. Padahal kakiku telah membeku.

Dengan marah kamu menyambar tanganku. Katamu, “Kau tak punya hak untuk pergi. Meskipun mati kau tetap tak boleh beranjak dari sisiku.”

Lalu dalam pelukanmu aku bergulingan menuju tanah. fajar pertama pecah di langit dan dalam adegan slow motion itu aku melihat ekspresi yang berubah-ubah di matamu. Lucu. Aku tertawa. Beberapa waktu kemudian dan banyak waktu sesudahnya aku harus tetap berada di atas ranjang dengan pengawasan dokter. Banyak sekali rasa sakit tapi melihatmu aku ingin tertawa. Kamu mau mati bersamaku benar-benar adalah sebuah lawakan yang sangat lucu.

Suatu kali aku melihatmu datang. Dengan kemeja putih bernoda darah dari ujung pisau di tanganku.

Dengan darah itu aku bisa memberitahumu kalau aku mencintaimu. Darah adalah cairan dengan kepekatan sempurna untuk tinta. Tunggulah beberapa detik lalu tulisan itu akan seindah grafitti. Lagipula aku hanya bisa membuat kaligrafi dan bukannya simfoni. Kamu bukan maestro yang peka mendengar nada indah sedangkan aku ini tak bisa bicara. Tapi kamu letakkan pikiranmu dalam pikiranku dan kuusung hatimu dalam hatiku.

Hanya sayang sekali kalau kamu kemudian mati.

Saturday, 8 March 2014

Aku, Djenar dan Taufan


Oleh Yuni Kristyaningsih

Aku bukan orang yang kuat. Gambarannya seperti ini: satu persen kekuatanku dikucilkan oleh sembilan puluh sembilan persen kelemahan. Makanya aku hancur setelah Taufan mengkhianatiku. Hancur. Seperti cokelat batangan yang leleh terkena hangatnya lidah, kerasnya email gigi dan asamnya hasil ekskresi kelenjar saliva.

Aku tak mampu mencintai seseorang selain diriku sendiri. Dan Taufan adalah bayangan yang selalu kulihat di cermin saat aku menghitung jumlah bulu mataku yang jatuh hari itu. Dia adalah diriku. Walau dia laki-laki dan aku perempuan. Aku mencintainya dengan satu dan lain cara. Walau aku tak bisa membuktikannya. Tidak dengan perbuatan dan ucapan bahkan tidak dengan pikiran. Tapi aku merasa konsep cintaku ada. Walau absurd. Walau utopis. Tapi ada.

Dia tak pernah mengatakan dia mencintaiku. Mungkin dia memang tidak mencintaiku. Tapi apa bedanya. Banyak orang yang mengaku mencintaiku tapi melakukan hal yang sama seperti mereka yang membenciku. Aku menganggap kata-kata adalah jebakan. Dan Taufan memakai kediaman seperti orang lain menggunakan kata-kata. Dia memang belajar bagaimana menyatakan sesuatu, memahami dan mencari tahu tapi pengakuan adalah kelemahan kami berdua.

Aku tidak bersahabat dengan manusia. Mereka aneh. Jika diharapkan berlaku manis seperti pangeran dan puteri dalam dongeng pengantar tidur, mereka menipu dan berbuat kejahatan. Tapi jika diduga seculas Machbeth-nya Shakespeare, ternyata mereka menyayang dalam kebaikan. Aneh sekali. Aku jadi pusing. Dan memilih sendirian. Tapi aku tak pernah kesepian. Karena alam menemaniku. Dan juga Taufan.

Aku pecinta kebebasan. Sedang Taufan sangat memujanya. Itu satu-satunya perbedaan kami. Tapi aku tidak menyadarinya. Karena apa? Sebab saat itu aku masih sangat muda.

Aku suka naik ke atap jika perjalanan ke alam khayaliku sudah sampai pada episode yang membosankan, atau saat bola mataku sudah terlalu keruh sehingga harus dicuci dengan air mata, atau saat sistem tubuhku dialiri banjir bah hormon endorphin.

Taufan ada disana juga (biasanya dia sampai setelah merambati pergola yang rimbun). Membentangkan tangan, menatap langit dan memenuhi paket alveoli dadanya dengan udara.

Dia mengulurkan tangan padaku. “Kemarilah, Pipit Mungilku.” Nada suaranya tidak jelas apakah permintaan, bujukan atau perintah. Aku tidak tahu. Dan juga tidak peduli. “Terbanglah bersamaku, Burung Kecilku. Mari kita hitung berapa jumlah gumpalan awan. Ayo kita lihat barangkali saja akan ada aurora atau gerhana. Ayo kita cari asal aroma wangi itu, apakah benar dari melati ataukah telah bercampur dengan gardenia. Ayo.”

Aku pun menyambut ulurannya. Lalu kami terbang berdua. Meniru sifat udara yang dengan kurang ajar memasuki semua celah tak berpenghuni.

Tapi saat itu aku masih sangat muda.

Suatu ketika aku melihatnya menyandang ransel. Dua koper, satu hitam dan satunya cokelat berdiri di dekat kakinya. Dan sopir taksi telah membuka pintu bagasi.

Aku heran. Dia tidak pernah terbang tanpaku.

“Aku pergi, Pipit Mungilku,” katanya. Sambil bercanda dia bercerita kalau dalam empat tahun ke depan (mungkin setengah tahun lebih awal atau lebih akhir) dia berkewajiban memenuhi lipatan-lipatan otaknya dengan deterjen pencuci bernama ilmu, membiasakan tangannya bekerja sana dengan imajinasi dan kecerdasannya untuk membuat sebentuk mesin baru yang rumit. Dan sebagai tanda terimanya adalah dua huruf, I dan r, di depan namanya.

“Jangan menangis.” Dia menunduk, menghisap air murni yang keluar dari mataku. “Aku ini badai. Aku bisa datang kapan saja. Di hari terik atau hari hujan. Di laut atau daratan. Aku tak terhalangi, Burung Kecilku. Sedang kau adalah titik tengah pusaran badaiku jadi jangan menangis.”

Aku tahu Taufan adalah angin ribut. Mula-mula bertiup sepoi-sepoi lalu menghantam dan menggulung. Dia sangat berbahaya bagi serangga dan tangkai bunga. Jika tidak hati-hati dia dapat dengan mudah menelannya dalam arusnya. Tapi ada juga yang suka menari dalam pusaran badai. Aku.

Tapi saat itu aku masih sangat muda. Dan belum mengenal cinta.

Begitu cinta berada dalam pelukanku badai jadi terasa sangat menyakitkan.

Saat umurku dua puluh tahun, ayahku menikahkan aku dengan Djenar. Pemuda dengan wajah dan perawakan mirip pangeran dalam cerita Sleeping Beauty yang musik pengiringnya selalu memenuhi kamarku tiap malam sejak aku masih kecil. Senyum dan sinr matanya menyenangkan hatiku. Tiap pagi dia mengucapkan good morrow dari sisi ranjangku dan membuatku merasa telah terbebas dari sihir. Dia menjadikan aku puteri walau aku bukan puteri.

Djenar menyuguhkan hidangan baru bagiku. Cinta. Cinta yang menghangatkan seperti selimut. Dia mengajariku mata pelajaran baru. Pelajaran menjadi perempuan. Yang rumit tapi menyenangkan. Dia memberiku rumah baru. Sangkar dari emas. Perkawinan. Yang pengap tapi membebaskan.

Aku bahagia.

Tapi Taufan tidak menyukai Djenar. Sang badai tidak mnyukai sangkar. Aku tak mengerti. Bukankah Djenar baik? Tapi Taufan tetap membencinya.

“Kau mengkhianatiku!” teriaknya. Sebuah sore yang indah. Matahari jingga berada di belakang punggungnya. Telapak kakinya meninggalkan jejak di antara tangkai bunga rumput berdaun lembut.

Ketika itu dia sendirian. Aku juga. Sedang Djenar, sang pemilik sangkar, tidak bersamaku. Badai datang dan aku tanpa sangkarku? Tenang. Bukankah aku ini burung? Aku bisa terbang menghindar.

“Aku tidak melakukan apa-apa,” kataku.

“Kau biarkan lelaki itu mengurungmu padahal kau adalah burung kecilku.”

“Tetapi dia suamiku.”

Kulihat bara api pecah di matanya. “Hanya aku yang boleh memilikimu. Badai. Aku.”

“Tetapi aku miliknya.”

Kudengar dia mengerang. Lalu tiba-tiba dia berubah menjadi tornado. Badaiku menjadi badai. Dia menggulung dan menghisap. Dan aku tepat berada di titik tengahnya. Biasanya aku menari disana tapi sekarang aku tidak suka. Jadi aku terbang menghindar. Tampak seluruhnya menyatu dengan badai untuk membinasakan aku. Tapi aku adalah pejuang sejati, jadi aku terbang, terbang dan terbang. Namun aku terlambat menyadari bahwa badai kali ini berbeda. Dia lebih kuat, lebih jahat dan lebih menghancurkan. Dia melingkupi duniaku sampai aku menjadi sesak, tulang-tulangku remuk dan akhirnya aku lumat menjadi serpihan sel-sel yang tercecer.

Ketika matahari tenggelam, saat dia menjadikan bajunya sebagai buluku dan kedua lengannya sebagai sayapku, kesadaran meninggalkan aku. Aku kehilangan seluruh kekuatan dan kemampuan untuk merasa. Aku adalah burung kecil yang telah terpatahkan sayapnya, tercabuti bulunya dan terbelit arus badai.

Aku terbangun di ranjang sang badai. Berharap semuanya hanya ilusi tapi di atas bantal aku menemukan bulu-buluku yang terburai. Rasa itu kembali menyerang seperti hantu.

Susah payah aku bangun dan mencari-cari pisau. Untuk mengiris nadiku sebagai hukuman bagi sang badai.

Tuesday, 2 July 2013

Dodog Wesi





Apalah arti seseorang tanpa ditemani kenang-kenangan dalam hidupnya?


Pertanyaan itu begitu mengganggunya, membuatnya tak mampu memikirkan hal lain.


Dia sedang berbaring di bawah lampu kandil berkerangka kuningan yang dipasang pada dodog wesi, sebatang kayu yang berada di bawah molo, membuatnya berada persis di bawah sudut paling runcing dari atap. Pelayannya sudah menyiapkan kamar untuknya tapi ketika ditawari beristirahat dia menggelar klasa mendong di lantai dan berbaring disana.


“Aku pergi untuk menangis. Jangan berharap aku melakukan hal lain.” Begitu pamitnya pada suaminya sebelum dia pergi. Sejak kemarin dia telah tidak mempedulikan harga dirinya dan membiarkan para pelayannya melihat betapa murungnya dia.


Lampu itu memendarkan cahaya lembut lampu neon yang dipasang di dalamnya. Walau disamarkan dengan baik tapi dia dapat melihat kabel yang melilit di lampu kandil berkerangka kuningan itu. Seseorang pasti bekerja keras demi lampu neon itu. Dulu sewaktu belum ada aliran listrik lampu minyak tanahlah yang dipasang disana. Setiap sore salah satu pelayan keluarganya akan menarik kerekannya dan menyalakan lampu. Di pagi hari kerekannya akan ditarik lagi untuk memadamkan lampu. Saat hari raya lampu akan dinyalakan sepanjang hari.


Segala hal penting terjadi di bawah kayu melintang berukir sulur-sulur tanaman itu itu. Pertemuan-pertemuan keluarga, pembicaraan-pembicaraan penting, akad nikah bahkan jenazah kakeknya dibaringkan dibawahnya sebelum dimakamkan.


Di antara semua bagian rumahnya entah bagaimana dodog wesi itu yang paling melekat di benaknya. Sejak kecil dia punya kebiasaan terserang demam sawan. Demam itu mirip seperti demam biasa hanya bedanya demam itu menyerang jika terjadi hal-hal besar menimpanya atau dia sedang sangat ketakutan akan sesuatu. Ketika dia diberitahu bahwa dia akan dinikahkan dengan seorang pria yang kini menjadi suaminya dia bermimpi pria itu memanjat tiang, mengambil dodog wesi rumahnya dan membawanya pergi entah kemana. Dia mengalami demam tinggi dan mengigau. Dia telah dibawa berobat kepada dua orang dokter tapi tidak turun juga demamnya. Pada malam ketujuh dia bermimpi pria itu datang, memanjat naik dan memasang kembali dodog wesi itu di tempatnya. Keesokan harinya dia bangun seakan-akan tidak sedang sakit. Demamnya hilang entah kemana.


Dodog wesi itu bagian dari dirinya. Suaminya telah membangunkan untuknya rumah dengan atap-atap menjulang dengan lengkungan-lengkungan bagian dalamnya dihiasi mozaik-mozaik, lukisan-lukisan dinding dan candelabra kristal buatan Perancis tapi entah bagaimana balok kayu berukir itu selalu berayun-ayun di matanya setiap kali dia mengingat masa kecilnya.


Aku adalah orang yang hidup dengan mengenang-ngenang masa lalu. Dia tak pernah malu mengatakan itu kepada siapapun. Dia tidak merasa malu mengakui kalau dia memiliki khayalan tentang dunia dimana waktu mengekal dan dirinya tetap seorang gadis kecil dari keluarga yang pernah sangat bahagia. Dia juga tidak merasa melakukan hal yang memalukan ketika dirinya menghamburkan kemarahan yang nyaris tidak masuk akal kepada suaminya ketika laki-laki itu menyodorkan cetak biru konstruksi bangunan baru rumah keluarganya. Bangunan baru!


Selama dua tahun belakangan ini suaminya selalu menemukan berbagai fakta untuk menunjukkan betapa buruknya rumah itu. Yang satu selalu membuatnya lebih kesal dari yang sebelumnya.


“Ada rumah rayap di senthong barat. Di musim penghujan mereka membuat lubang di bawah jendela dan laron-laron bermunculan dari sana. Kalau musim kemarau rayap-rayap itu akan memakan kayu.”


Senthong barat adalah kamarnya ketika masih kanak-kanak. Di dalamnya terdapat ranjang bertiang dengan ukir-ukiran berbentuk bunga, sebuah lemari kayu jati, meja tulis yang dapat dilipat dan sebuah kursi dengan dudukan yang dilapisi busa lembut. Dia diperbolehkan tidur di ranjang itu sejak berusia tiga belas tahun, beberapa hari setelah acara tarapan-nya dilangsungkan. Sebelumnya dia tidur ditemani pengasuhnya di kamar yang lain. Dia ingat bagaimana takutnya dia saat pertama kali tidur disana. Dia khawatir ada buto rambut geni muncul dari kolong ranjangnya dan membawanya entah kemana. Di salah satu tiang ranjangnya dia ingat ibunya sering bersandar sambil menangis saat menjaganya pada malam-malam ketika dia sedang sakit. Di lemari itu dia menyimpan mainan-mainannya. Meja lipat dan kursi beralas busa itu adalah temannya belajar.


“Adanya aliran air di dekat pondasi sebuah rumah adalah ide yang buruk. Lantai menjadi terlalu lembab dan itu buruk bagi bahan bangunan berupa kayu.”


Sejak dia mampu mengingat ada saluran air kecil di sepanjang tritisan timur. Air dari sungai mengalir di sepanjang saluran air itu dan tertampung di belik kecil di belakang rumah. Air itu menjadi sangat jernih disana. Kodok, endol kecil bersisik warna pelangi dan hydrilla tumbuh disana. Mereka menggunakan air itu untuk mandi dan menyirami tanaman. Petak-petak bayam, kenikir, kacang panjang, cabai, tomat dan sayuran lain menghijau sepanjang tahun selama belik itu penuh. Orang akan saling membunuh demi mendapatkan aliran air seperti itu. Seharusnya.


“Lapisan pertama lantainya terbuat dari tanah. Itu yang menjadikan lantai semennya mengeluarkan rembesan air di musim penghujan. Penambalan tidak bisa memperbaiki keadaan. Yang bisa dilakukan adalah meninggikan pondasinya.”


Keluarganya memakai lantai untuk kegiatan sosial. Jika ada acara, apapun itu, kursi-kursi akan disingkirkan ke gudang dan klasa-klasa mendong digelar di atas lapisan lampit, dan semua orang, apakah itu tamu kehormatan atau tamu biasa akan duduk di atasnya. Di atasnya pula sehari-harinya keluarganya makan dan berbincang-bincang. Dia sendiri memiliki kesenangan dengan lantai itu. Di bagian-bagian tertentu dari lantai rumahnya, bagian yang digosoknya sendiri hingga mengkilat dan berwarna kehijau-hijauan, bagian yang hanya dia sendiri yang tahu persis letaknya, dia bermain bola bekel disana bersama kawan-kawannya.


“Gentingnya sudah rapuh. Fragile. Literally. Seseorang dapat meremukkannya dengan ujung jarinya. Dan kalau boleh aku jujur, labu dan waluh yang kau biarkan merambat ke atap itu memperparah keadaan.”


Ada hari-hari tertentu ketika kakek dan ayahnya menyuruh orang-orang menurunkan sebagian genting untuk membersihkan talang. Pada hari-hari seperti itu ibunya akan memasak jangan gurih sewajan besar dan dia merasa senang hanya dengan melihat betapa orang-orang desa makan dengan begitu lahap.


Di kampung halamannya orang-orang mempunyai kebiasaan menanam sesuatu untuk orang yang dicintai. Labu dan waluh itu ditanam oleh kakeknya untuk istrinya. Labu dan waluh hanya hidup selama semusim tapi mereka memiliki biji yang banyak dan selalu dapat tumbuh lagi lebih besar di musim berikutnya. Apakah ada ungkapan cinta yang lebih romantis dari itu?


“Gedogan itu lebih parah dari yang lain-lainnya. Kalau diperbaiki tentu si Djenar itu tidak akan terpeleset sampai kakinya cedera begitu. Kita seharusnya melapisi tanah disana dengan pasir.”


Istal adalah tempat dimana dia akan bisa menemukan kakeknya jika tidak ada di tempat-tempat yang lain. Kakeknya mencintai kuda dan rasa cinta itu juga menurun kepadanya. Beberapa orang dapat bersaksi kalau kakeknya telah mengajarinya berkuda sejak usianya dua tahun. Kakeknya sering mendudukkannya di bagian depan pelana kudanya lalu berkuda melewati hutan-hutan pinus, memimpin para pekerja yang memikul keranjang-keranjang berisi jeruk keprok yang dia beli dan panen dari kebun-kebun yang jauh. Ketika itu belum ada kendaraan apapun yang bisa digunakan di daerah pegunungan kecuali kuda. Ketika dia sudah besar dia mendapatkan kudanya sendiri dan kakeknya pura-pura saja tidak tahu kalau dia sering melompati rintangan yang kata orang terlalu tinggi untuk seorang wanita.


“Seseorang yang bodoh menabrak loning sampai roboh separo. Orang yang melihatnya mengatakan kalau di dalam temboknya ternyata sudah menjadi tanah.”


Di loning itu saat bulan sedang terang kakeknya biasa duduk bercerita tentang orang-orang dari negeri dongeng seperti Bima, Damarwulan atau yang paling sering tentang Pangeran Samber Nyawa yang merupakan leluhurnya sendiri. Dia dan kawan-kawannya mendengarkan dan percaya bahwa semua yang dikatakannya itu nyata.


Bagaimana dia dapat membiarkan orang menghancurkan semua romansa itu demi sesuatu yang disebut ‘baru’?


“Yang akan kita lakukan bukan renovasi tapi restorasi.” Suaminya sering mengatakan itu. “Rumah itu akan terlihat sama seperti sebelumnya hanya diperkuat.”


“Setelah itu apa? Kau akan menjadikannya hotel lalu orang-orang datang keluar masuk seenaknya dan tidur di kamar kakekku tanpa rasa hormat, begitu?”


“Apa kau bermaksud mengatakan kau ingin tinggal disana?”


“Tentu saja tidak.” Dia tahu dia tidak dapat lagi tinggal disana. Tidak tanpa keluarganya. Dulu, ketika dia masih kecil, ada seorang dokter bodoh yang mengatakan bahwa umurnya tidak akan mencapai usia dua puluh tahun. Tapi ternyata dia berhasil hidup meski dengan susah payah dan malah keluarganya yang satu demi satu meninggalkan dia. Rumah itu terlalu penuh dengan kenangan. Orang yang hidup tidak bisa tinggal di tempat seperti itu.


“Akan lebih baik kalau kita biarkan saja rumah itu rubuh.” Dia telah mengatakan itu puluhan kali. “Kau laki-laki. Tentu saja kau tidak tahu bagaimana perasaanku.” Dia menangis sepanjang malam dan memusuhi suaminya selama berhari-hari.


“Sebenarnya apa yang kau takutkan?” tanya suaminya ketika kemarahannya agak reda. “Jika diperbaiki rumah itu bisa jadi sanggar seni. Kau bisa mengajari anak-anak melukis dan menari. Kau juga dapat membuat program pemberdayaan, entah apa begitu, untuk membantu para wanita disana. Bukankah itu yang juga dilakukan kakekmu?”


“Aku tak mau keluargaku dilupakan,” katanya, menyembunyikan dirinya di lekukan dada suaminya. “Orang-orang mudah sekali lupa. Aku juga pelupa. Aku tidak ingin melupakan apapun. Kemana perginya sesuatu yang dilupakan?”


“Kenangan,” jawab suaminya. “Hal-hal seperti itu, mereka pergi ke dalam kenangan.”


Dia bergumam entah apa. “Dinding semen berhias pecahan-pecahan kaca itu sekarang sudah tidak dijual lagi.”


“Kita akan menemukan yang benar-benar persis seperti itu. Kalau tidak ada aku akan membuatnya.”


Dia menyebutkan lagi beberapa hal yang tak mungkin lagi didapatkan tapi suaminya selalu mengatakan kalau itu bukan tidak mungkin.


Dia memandang balok kayu dengan ukiran sulur-sulur tanaman itu dan merasa mencintainya lebih dari sebelumnya.


Cinta, barangkali, adalah bentuk lain dari keberanian untuk bertahan hidup.


Dia menelepon suaminya. “Suruh kepala proyeknya menemui aku besok. Dan kalau masih mau membuatkan aku water garden seperti yang kaujanjikan itu lebih baik kau segera membeli teratai. Aku mau yang berwarna putih dan ungu.”


Bertahan hidup bahkan meski satu per satu hal-hal indah memudar dan pergi ke tempat dimana seharusnya hal-hal indah itu tinggal dan mengekal yaitu di dalam kenangan.





Catatan :


· Dodog wesi adalah sebutan untuk salah satu balok kayu yang berada dalam rangkaian kerangka rumah tradisional Jawa. Balok kayu ini berada di bawah molo dan membagi keseluruhan kerangka bangunan menjadi dua bagian yang simetris. Biasanya dihiasi dengan ukir-ukiran dan dipakai untuk menempatkan lampu kandil.


· Molo adalah balok kayu mendatar yang berada di puncak atap.


· Klasa mendong adalah tikar yang dibuat dari anyaman tanaman mendong, sejenis tanaman berserat yang tumbuh di rawa-rawa.


· Senthong adalah sebutan untuk kamar-kamar di rumah tradisional Jawa.


· Tarapan adalah upacara yang diadakan bagi anak gadis keturunan bangsawan Jawa yang mengalami datang bulan untuk pertama kalinya. Upacara ini didahului dengan tuguran (berjaga semalam suntuk) kemudian si gadis disuruh makan buah delima putih kukus yang di dalamnya diberi jenitri, juga meminum rebusan daun jungrahab yang diberi gula batu. Tujuh hari kemudian diadakan acara siraman. Si gadis dimandikan dengan berbagai rempah mandi dan rambutnya dikeramasi dengan merang, air asam dan santan kelapa lalu tubuhnya diasapi dengan bakaran ratus dan diberi lulur putih kemudian didandani dengan busana yang indah. Selama upacara si gadis diberi wejangan oleh orang tua dan para sesepuh. Setelah menjalani upacara ini seorang gadis dianggap sudah dewasa.


· Tritisan adalah bagian luar rumah dimana air hujan dari atas jatuh kesana. Biasanya bagian ini dijaga sangat bersih dan tidak boleh menaruh apa-apa disana.


· Belik adalah kolam buatan yang menampung air dari sungai. Biasanya airnya sangat jernih dan sejuk karena telah melewati proses penyaringan lewat tanah. Untuk menghalangi sinar matahari dan menjaganya tetap jernih biasanya orang menaruh tanaman air seperti enceng gondok atau teratai di dalam belik. Di desa-desa belik dipakai untuk keperluan mandi, mencuci dan menyiram tanaman.


· Endol adalah ikan kecil yang biasa hidup di sungai dan perairan. Berwarna putih keperakan, ikan yang jantan ukuran tubuhnya lebih kecil dari yang betina dan memiliki semburat warna pelangi yang indah. Ikan betina memiliki tubuh yang gemuk lucu tanpa semburat warna pelangi. Nama latinnya Nemacheilus panchax.


· Hydrilla adalah tumbuhan yang hidup di dalam perairan air tawar. Tempat hidupnya di dalam perairan yang tenang, bukan di dasar, bukan pula mengambang. Memiliki cara berkembang biak yang unik.


· Lampit adalah anyaman bambu yang biasa dipakai sebagai alas di lantai. Biasanya ukurannya sekitar dua kali tiga meter. Bambunya diraut tipis-tipis dibuat supaya tidak terasa keras ketika diduduki. Di daerah saya lampit seperti ini dibuat oleh wong nggunung, sebutan untuk orang-orang yang tinggal di desa-desa di lereng-lereng gunung. Biasanya dijual dengan dipikul berjalan kaki tapi harganya sangat murah.


· Talang adalah tempat bertemunya ujung atap sebuah rumah. Rumah tradisional di Jawa biasanya terdiri dari beberapa bagian yang berdekatan. Pada pertemuan bagian-bagian itu atapnya disatukan oleh talang. Karena berguna sebagai tempat mengalirkan air saat hujan maka talang ini harus sering dibersihkan agar rumah tidak kebanjiran.


· Jangan gurih adalah nama masakan bersantan. Bahannya dari tempe, tahu dan kadang-kadang kluwih. Dimasak untuk dihidangkan pada acara yang bersifat gotong royong seperti bersih desa, kerja bakti atau membantu salah satu warga. Jangan gurih ini salah satu masakan kesukaan saya.


· Gedogan adalah sebutan untuk kandang kuda atau istal


· Loning adalah bagian dari pagar yang dibuat agak rendah. Setiap rumah di desa saya dulu memiliki sepasang loning berhadap-hadapan di bagian gerbang depan rumah dan dipakai untuk tempat duduk. Orang-orang biasa duduk berbincang-bincang disana pada sore atau malam hari.

Tuesday, 25 December 2012

MUSIM YANG BEKU






Di dalam bak mandi berisi air hangat Linsie memandangi salju yang turun di luar jendela. Itu adalah tahun dimana musim dingin sangat dingin dan musim panas sangat panas. Salju turun tiada henti, membentuk gundukan-gundukan muram pada semua benda yang menghadap ke langit. Mereka tidak punya kebiasaan membersihkan salju. Tidak ada gunanya melakukan itu. Sepanjang musim dingin tidak ada orang yang datang berkunjung kecuali seorang sahabatnya yang melakukan kunjungan teratur setiap hari Rabu. Alexander Grimm tidak peduli pada apapun kecuali apa yang ada di dalam kepalanya sendiri. Dia bahkan tak menyadari betapa rumah itu benar-benar dapat menggambarkan ungkapan a mile away from anywhere, betapa jajaran pohon lombardy dan birch mampu membuat pola yang membingungkan di saat salju setinggi lutut menutupi jalan. Dia tetap datang pada hari dan jam yang sama setiap minggu. Linsie sangat sayang padanya dan mereka membuat komposisi musik bersama-sama. Di bulan Maret saat matahari dan udara musim semi melelehkan salju itu mereka bahkan bisa bercanda dengan topik siapa yang lebih banyak jatuh terpeleset.


Saat itu pertengahan bulan Januari. Pada malam-malam tertentu suhu turun hingga minus lima belas derajat celcius. Di malam-malam seperti itu dia tidak bisa tidur, bukan karena dingin, kamarnya hangat, tapi karena kesunyian. Aku sedang dibuang oleh Tuhan, pikirnya saat malam-malam mencekam seperti itu datang lebih sering.


Alunan lagu dari opera Tannhauser tidak bisa menyembunyikan kenyataan dari telinganya yang peka bahwa seseorang datang. Karena bak mandi itu ditanam di lantai dia bahkan dapat mendengar suara sandal kamar yang pelan.


Dia mendongak, melihat Ulric berdiri di dekat bak mandi. Dia mengenakan jubah kamar dari bulu cerpelai. Ikatan di pinggangnya sepertinya dibuat dengan serampangan.


“Aku sedang mandi,” kata Linsie.


Kamar-kamar di dalam rumahnya tidak pernah dikunci. Dia seorang penderita claustrophobia. Dia memerlukan ruang-ruang terbuka untuk merasa normal. Tapi dia tetap menghargai privasi. Suaminya merasa dia boleh melihatnya kapanpun dia mau. Dia tidak pernah minta ijin untuk hal apapun kepadanya. Linsie kadang-kadang menegurnya tapi dia memang selalu seperti itu sejak dulu.


Mereka telah tidak bertemu cukup lama. Suaminya punya banyak hal untuk diurus. Dia pergi tiga kali dalam sebulan dan kadang lamanya seminggu atau lebih. Linsie sudah biasa tidak melihatnya di rumah.


“Kau suka sekali mandi,” kata pria itu. “Seseorang akan berpikir kau menetas dari sebutir telur angsa atau semacamnya.”


“Airnya hangat.”


Pria itu melepaskan jubah kamarnya dan masuk ke dalam air. Bak mandi itu cukup lebar. Dua orang dapat berbaring dengan nyaman di dalamnya tanpa bersentuhan satu sama lain. Uap air memburamkan pandangan. Benda itu didesain untuk bisa mempertahankan suhu air tetap konstan.


“Apa yang sedang kau pikirkan di dalam kepalamu yang kecil itu?” tegur laki-laki itu.


“Hanya hal-hal sepele.”


“Aku tertarik pada hal-hal sepele.”


Linsie membuat komposisi musik, menggambar dan menulis. Suaminya tidak mengerti satu pun dari apa yang menjadi kesukaannya. Tapi ada saat-saat tertentu ketika pria itu menghabiskan waktunya dengan menanyai Linsie tentang apa yang berada di dalam pikirannya dan menikmatinya seakan dia sedang menonton sebuah film. Linsie berpikir di saat seperti itu suaminya sedang menjalankan kewajiban sebagai keluarga. Orang lain mungkin akan menganggapnya sebagai cinta.


“Tadi aku bermimpi. Aku berjalan-jalan di sebuah pasar dan melihat gaun-gaun cantik berwarna merah muda pucat. Waktu mau bayar ternyata di dompetku tidak ada selembarpun uang rupiah.”


Linsie tidak pernah pulang sejak pindah. Dia tidak pernah menyebut-nyebut ingin pulang atau semacamnya. Hubungannya dengan keluarganya terlalu rumit untuk dipahami. Tapi dia selalu bermimpi tentang rumahnya.


Suaminya tertawa. “Di dalam mimpi kau tetap sama bodohnya,” katanya.


“Itu pasar kabupaten tempat aku biasa menemani nenekku berbelanja. Orang-orang meletakkan barang-barang jualannya di meja-meja dari bambu. Mereka menatanya di pagi hari dan membereskannya lagi sebelum pulang. Ada satu tempat yang menjual gethuk yang sangat enak. Gundukan gethuk berwarna kecoklatan karena memakai gula kepala diletakkan di atas tampah bambu, berjajar dengan jongkong yang liat dan parutan kelapa berwarna putih bersih. Saat akan disajikan gethuk itu akan diiris tipis, ditaburi parutan kelapa, bersama satu jongkong dan dibungkus daun jati. Harganya hanya lima ratus rupiah. Kalau bisa mendapatkan gethuk dan jongkong itu artinya kau beruntung. Jongkong entah kenapa hanya dibuat beberapa buah dalam seharinya.”


“Jadi kau ingin memintaku mencarikan singkong untukmu? Kurasa aku bisa mendapatkannya di pasar.”


“Ya ampun, tidak. Jangan konyol.”


Linsie jarang memikirkan hal-hal yang praktis dan real. Ucapan dan pikirannya mengandung khayalan yang maksudnya seringkali menyimpang dari kenyataan yang dipahami orang. Suaminya menganggap dirinya berkewajiban menyediakan semua keperluan praktis dan real itu jadi dia biasanya merepotkan dirinya sendiri dengan mendapatkan apa-apa yang dibicarakan Linsie. Jika sedang berjalan-jalan dengannya dan Linsie memandangi suatu barang lebih lama dari seharusnya dia akan berpikir istrinya menginginkan benda itu dan akan berusaha mendapatkannya. Tidak ada yang tidak bisa dia dapatkan cepat atau lambat. Grimm sering menyebut pria itu diperbudak cinta dan menertawainya di belakang punggungnya. Tapi Linsie tidak tertawa. Dia tahu semua orang yang mencintainya adalah orang-orang yang dikutuk.


“Kau selalu saja mendengarkan lagu ini,” kata suaminya. Ada keluhan dalam suaranya. “Aku lebih suka Offenbach yang riang.”


“Aku menyukainya.”


“Apa yang hendak diceritakan lagu ini?”


“Harapan,” ucapnya. Dia menopang sisi kepalanya dengan tangan. Sebagian rambutnya basah. Nampak begitu kelam di latar belakang kulitnya yang pucat. “Bahwa untuk seorang Tannhauser walaupun dia telah menuruti godaan Venus dan terperosok ke dalam kejatuhan moral tetap ada seorang Elizabeth yang setia menunggunya.”


“Bukankah itu kebodohan yang tragis?”


Linsie menghabiskan waktunya di tempat tidur karena sakit sementara suaminya seorang pria yang sangat sehat. Sekali waktu pria itu, sebagaimana umumnya pria manapun sejak awal masa, membiarkan dirinya menuruti godaan wanita-wanita lain yang dia miliki. Pada mulanya, karena dia percaya pria dan wanita harus menjalani hubungan yang suci di antara mereka, hal semacam itu menyakiti hati Linsie. Hampir-hampir merusak sebagian jiwanya. Tapi waktu berlalu dan dia menyadari dia hidup di dunia yang tidak sempurna. Membiarkannya adalah caranya berdamai dengan takdirnya. Lagipula pria itu mencintainya. Di dunia yang kacau balau seseorang tidak seharusnya meminta terlalu banyak. “Itu namanya harapan,” katanya. “Bagus sekali kalau seseorang dapat menuliskannya ke dalam lagu. Harapan itu sesuatu yang indah.” Tangannya menyusuri dasar vas bunga porselin di dekat bak mandi. Pelayannya telah mengisinya dengan empat belas batang bunga anyelir kesukaannya.


Suaminya menatapinya. “Apa ada yang mau kau katakan?”


Dia menyentuh kelopak bunga berwarna merah muda pucat itu. “Aku pergi ke Rhein beberapa hari lalu,” katanya. “Aku bertemu dengan puterimu.”


“Anakku meninggal enam bulan lalu. Dan dia laki-laki.” Ekspresi wajah laki-laki itu sama seperti ketika anak yang Linsie kandung meninggal sewaktu berumur enam bulan dalam kandungan. Karena dia sakit, pengobatan yang dia jalani menyebabkan kontraksi yang tak bisa dia cegah. Dokter harus membuang janin dalam perutnya supaya dia bisa tetap hidup. Dokter selalu seperti itu dimana pun mereka berada. Selalu memutuskan bahwa hidup akan lebih baik daripada kematian. Bahkan tanpa bertanya pada orang yang memiliki tubuh dimana nyawa itu tinggal.


“Aku membicarakan anakmu yang lain.”


“Aku tidak punya anak yang lain.”


“Kau tahu siapa yang kubicarakan.”


Biasanya wanita-wanita yang dimiliki pria itu terlalu cerdas untuk bersikap serius terhadap hubungan mereka tapi salah satu dari mereka ada seorang wanita yang masih sangat muda. Dia jatuh cinta dengan begitu bodohnya pada pria itu. Gadis itu melahirkan seorang puteri musim gugur lalu dan terlalu baik hati untuk mengusik hidup pria yang dicintainya. Linsie tahu suaminya memberikan uang yang banyak padanya dan gadis itu menolaknya.


“Gadis itu sangat miskin. Mungkin dia terpaksa harus menyerahkan anaknya ke panti asuhan.”


“Kau merepotkan dirimu sendiri dengan urusan yang bukan urusanmu.”


“Aku menyesal bigamy ilegal di negara ini. Kalau tidak kita dapat menyelesaikan masalah ini dengan mudah, kan?”


“Linsie!”


Linsie tidak mempedulikannya. “Kukatakan padanya aku bisa merawat anaknya kalau dia setuju.”


“Aku tidak mau mendengarkan omong kosong seperti ini.” Ulric beranjak bangun dan meraih mantelnya.


“Kau tahu apa yang membuatku bertahan di tempat ini?” Linsie bertanya tanpa mengalihkan tangannya dari kelopak-kelopak anyelir lembut itu. “Tempat yang sangat dingin dan muram, yang akan membuatmu terdorong untuk bunuh diri jika kau terbangun seorang diri di malam hari. Tempat dimana kesepian menemanimu lebih sering daripada bayanganmu sendiri. Kau tahu apa yang membuatku tidak ikut menjadi sedingin dan semuram salju itu? Bukan cinta seperti yang selalu aku tulis. Tentu saja bukan. Tapi karena aku percaya keluarga harus selalu bersama sampai mati. Orang-orang itu, keluarga, harus selalu ada dalam hidupmu, bahkan walaupun mereka membakar hatimu dengan api kebencian yang disulut dari dasar neraka, bahkan meskipun mereka menghisap seluruh tetes darahmu, kau tidak bisa, kau tidak boleh meninggalkan mereka. Aku tidak sedang bicara tentang aturan Tuhan. Tidak. Bukan itu. Tapi tentang bagaimana seharusnya seseorang bersikap. Keluarga adalah bagian dari dirimu sendiri. Tidak ada yang lebih pengecut selain orang yang menolak dirinya sendiri. Begitulah seharusnya. Setidaknya dengan cara itulah aku dibesarkan.” Dia menoleh. Pria itu hendak pergi tapi suara Linsie menghentikan langkahnya “Kau adalah orang yang kupilih untuk menjadi keluargaku. Itu kenapa aku lebih mencintai rasa dingin dan kemuraman ini dibanding sinar matahari yang ceria di kampung halamanku.”


Terdengar sebuah aria yang memilukan. O Du, Mein Holder Abendstem “Aku menginginkan anak itu. Tolong bawa dia padaku.”


“Kau hanya mencari sebuah cara untuk menghukumku.”


Linsie menggumamkan sebuah senyuman. “Matanya seperti matamu. Dia juga memiliki rambut seperti rambut bayiku.”


Ulric tidak mengatakan apa-apa. Dia berjalan keluar tanpa memandang Linsie. Di mata Linsie punggung suaminya terlihat seperti pohon-pohon lombardy di kebun mereka yang menjadi penanda jalan di musim dingin. Tinggi menjulang mencegah orang-orang tersesat tapi tidak dapat mencegah dirinya sendiri untuk tidak mematikan diri di bawah siraman salju.


Catatan:

-Tannhauser adalah judul opera karya Richard Wagner. Karya ini berdasarkan pada legenda Jerman tentang Tannhauser dan kontes lagu di Wartburg. Opera ini menggambarkan tentang perbedaan mendasar antara cinta yang suci dan cinta yang hanya melibatkan kesenangan fisik semata. Opera ini sebagaimana umumnya opera-opera yang lain memiliki akhir yang tragis tapi ada sebuah pelajaran berharga yang dapat diambil yaitu bahwa cinta yang suci akan menuntun datangnya pengampunan dari Tuhan.

-Rhein adalah sebuah kota di daerah Westphalia, Jerman. Sebuah kota yang tenang tapi sama sekali tidak ada hubungannya dengan sungai Rheine

-O Du, Mein Holder Abendstem (O thou, my gracious evening star) adalah sebuah aria yang dinyanyikan oleh tokoh Wolfram dalam opera Tannhauser. Wolfram jatuh cinta pada Elisabeth tapi moral yang teguh dan aturan agama yang suci membuatnya menahan diri dan hanya mengagumi gadis itu dari kejauhan. Sebuah aria yang indah, petikan harpa dan nada G minor dan G mayor sambut menyambut menggambarkan dengan bagus sekali perpaduan yang menarik antara kebahagiaan cinta dan kepedihan yang mendalam.

Thursday, 21 June 2012

AKU INGIN MELIHAT MATAHARI TERBIT BERSAMAMU


Oleh Yuni Kristyaningsih Pramudhaningrat


Aku ingin melihat matahari terbit bersamamu.


Aku membuka daun jendela kayu jati berukir bunga-bunga bulat yang menjulur kesana kemari itu dan melihat langit sudah terang tapi matahari belum tampak. Apakah aku bangun terlambat?


Aku melihat seseorang berdiri di jalan setapak di dalam taman, di antara batang-batang melati. Aku melangkah ke pintu dan kemudian berjalan mengitari bunga azalea dalam pot keramik besar dan serumpun mawar putih menuju ke arahnya. “Guten Morgen,”sapaku. Berjalan tanpa alas kaki di atas batu-batu bulat pada pagi hari adalah rutinitas penghuni rumah itu. Aku mengetahuinya dari sisa-sisa ingatanku.


Sapaanku tidak dijawab. Orang itu hanya menoleh sebentar lalu tanpa mengubah gerakannya yang meliuk dengan lembut mengikuti pola-pola tertentu dia berkata “Tidurmu nyenyak?”


“Iya. Terima kasih.” Semalam aku tidak dapat tidur sekejap pun. Rumah tradisional itu tidak memiliki palang pintu. Dia bisa masuk dan menusuk dadaku dengan pisau kapan saja. Aku tidak takut mati. Aku hanya tidak ingin tidak terjaga ketika dia sedang membalaskan dendamnya. Aku berharap dia melakukannya. Setidaknya dengan begitu aku punya alasan untuk meminta maaf. Saat ini mustahil meminta maaf padanya tanpa melukai harga dirinya.


“Ini apa?” Aku mengamatinya. “Tai-chi?”


Andrew dan aku berlatih tai-chi setiap pagi. Aku suka gerakannya yang seperti menari. Dalam taraf tertentu ini adalah jurus bela diri yang berbahaya. Prinsipnya adalah memukul balik musuh dengan memanfaatkan tenaga musuh itu sendiri. Aku belum pernah menggunakannya untuk memukul orang tapi mungkin Andrew pernah.


“Maukah anda mengajariku?” kataku. Dia punya kebiasaan berbicara dengan kalimat-kalimat pendek. Aku berharap kesopansantunan akan mengubahnya sedikit. Aku percaya pada kata-kata. Orang yang sedikit bicara membuatku ngeri. Sejak aku datang kemarin kami belum bertukar kata lebih dari setengah lusin.


“Tidak. Ini tidak cocok untuk anak muda sepertimu.”


“Saya sudah tua. Umur saya tiga puluh tiga saat ini.”


Dia tertawa tapi tidak ada nada senang di dalam tawanya. “Itu umur dimana orang-orang bertindak bodoh,” katanya. Puterinya meninggal saat berusia tiga puluh tiga. “Bukan untuk disebut tua.”


Aku melihat sosoknya yang tinggi dan besar. Matanya yang berwarna seperti laut pada musim badai dan rambut kecokelatan dengan beberapa jumput warna keperakan. Dia tidak memperlihatkan definisi kata ‘tua’. “Saya bodoh sejak lahir. Dan mungkin akan tetap begitu sampai mati,” kataku.


Dia menghentikan gerakannya. Sepertinya merasa terganggu.


“Sepertinya kau terbiasa mendapatkan pemaafan,” ucapnya sambil berjalan ke arah bangku taman dan meraih handuk kecil yang tersampir di kursi. Tubuhnya berkeringat. Aku mengikuti berjalan di belakangnya.


“Tidak dari diri saya sendiri,” jawabku. Tidak juga dari pria ini dan kekasihku, kurasa.


“Oya? Yang seperti itu susah untuk dilihat. Orang mungkin iri padamu.” Aku tahu dia mengatakannya untuk melampiaskan kemarahan. “Orang cenderung tidak menyukai orang yang melakukan sesuatu tanpa mendapat resiko apapun.”


“Apakah ada orang yang begitu?”


“Aku tidak tahu. Mungkin beberapa.”


Dia duduk di bangku taman dan mengusap lututnya.


Dia mendapat kecelakaan ketika masih muda yang membuatnya berhenti menjadi tentara dan mulai belajar kedokteran. Dia perlu membawa tongkat kemana-mana tapi dia tetap tipe pria Eropa yang elegan dan menakutkan. He has my bad temper in an original version.


“Masih pagi,” ujarnya. “Kembalilah ke kamar. Kami baru sarapan sekitar jam delapan.”


“Saya ingin pergi ke suatu tempat.”


Sebelah alisnya menaik. “Menurutku kau akan tetap pergi walau aku melarangmu kesana.”


“Saya ingin melihat matahari terbit.”


“Matahari terbit setiap hari.”


Aku ingin melihat matahari terbit bersamamu. Kekasihku berkata begitu tahun lalu dan juga tahun-tahun sebelumnya.


Saat itu aku tertarik pada banyak hal tetapi matahari terbit tidaklah termasuk di dalamnya.


Aku tidak percaya akan masa depan. Meskipun aku tahu bahwa dalam hidup ini orang selalu akan ngunduh wohing pakarti, ketidakpercayaan itu membuatku hidup sesuka hatiku. Aku sama sekali tidak tahu kalau pada suatu hari dia akan menjadi salah satu buah perbuatan yang harus aku petik.


Bagiku cinta baru bisa dipikirkan setelah semua hal yang lain diurus dengan baik. Itu baru fair. Kebanyakan orang memperlakukan cinta seperti semacam hiburan saja. Sesuatu yang diam-diam mereka nikmati ketika mereka kelelahan atau melarikan diri dari hal-hal lain yang lebih serius dan realistis.


Kekasihku wanita yang terlalu romantis, dia gembira karena hal-hal kecil dan sangat mudah terluka. Dia mencintaiku dengan sepenuh perasaan. Sesuatu yang selalu membangkitkan rasa kasihanku


“Saya tahu,” jawabku, menatap laki-laki itu. “Tapi matahari tidak sama setiap harinya.”


Aku mengangguk padanya dan hendak melangkah pergi. Beberapa langkah aku mendengar suaranya. “Apa kau tahu dia mengidap hemochromatosis?”


Aku berbalik. “Apa itu?”


“Jadi kau tidak tahu?”


“Maaf saya tidak tahu. Tolong anda jelaskan apa itu.”


“Aku tidak suka padamu.” Dia berbicara dengan nada datar seperti biasanya. “Ketika dia meminta persetujuanku atas pernikahan kalian kami bertengkar hebat. Kukatakan dalam hubungan semacam itu orang sepertimulah yang akan lebih cepat bosan dibandingkan orang seperti dia. Tapi rupanya dia sangat percaya kepadamu. Dia mewarisi kebodohan ibunya.”


Saat pertama kali bertemu ayahku, ibuku jatuh cinta padanya dan menyerahkan seluruh hatinya. Ayahku terlalu manja untuk bisa mengambil tanggungjawab semacam itu jadi dia pergi. Perlu waktu dua puluh tahun baginya untuk menyadari bahwa aku adalah anak yang lahir karena kecerobohannya.


“Saya...” Aku ingin sekali meminta maaf tapi tidak mampu mengucapkannya.


“Lalu ketika kau memutuskan hubungan dengannya aku berpikir aku harus meluangkan waktu untuk membujukmu.” Dia tertawa kecil. Sangat satir. “Kau harus lihat bagaimana dia begitu antusias menyiapkan pernikahannya. Kau tahu dia menganggap dirinya harus menjalani hidup seperti biarawati karena pandangan orang-orang yang kolot tentang anak haram. Dia tidak pernah peduli pada pria manapun seumur hidupnya. Ide tentang pernikahan dan keluarga tidak pernah singgah di kepalanya. Sampai dia bertemu denganmu dan kau berhasil menyusupkan ide itu ke dalam angan-angannya. Dia mengikuti pelayanku sepanjang hari dan mengganggunya dengan pertanyaan bagaimana melakukan ini dan itu. Dia belajar memasak dan menangis ketika ikan yang dia goreng gosong. Katanya kau suka makan ikan. Dia membeli bermeter-meter kain brokat untuk dijahit menjadi kebaya. Dia memang sangat lugu dan bodoh.” Dia menatapiku. “Kenapa kau tiba-tiba membatalkan pernikahan?”


“Saya sudah menikah. Saya pikir tidak adil bagi...”


“Lalu kenapa kau memulainya, demi Tuhan?” Suaranya meninggi. “Seorang pria terhormat tidak seharusnya memulai sesuatu yang tidak dapat dia lakukan sampai akhir. Tidakkah kau mendapatkan pelajaran itu ketika kecil?”


“Saya bukan pria terhormat.”


“Oh, itu jelas sekali.” Ketajaman suaranya membuatku merasa agak nyaman. Aku harus mendapatkan hukuman darinya entah bagaimana. Itu akan membuatku merasa lebih baik. “Aku seharusnya membunuhmu. Semua orang akan maklum kalau kulakukan itu. Tapi bahkan puteriku sendiri saja tidak membuat keributan sedikit pun. Walaupun sebenarnya dia punya hak untuk itu. Katanya itu supaya hidupmu tidak terusik. Kau punya keluarga dan anak-anak. Kau punya pekerjaan yang mengharuskanmu menjaga martabat. Dia lebih memilih menghinakan dirinya sendiri dengan berkumpul bersama iblis di neraka.”


Aku menyaksikan kesedihan mendalam yang tersembunyi di dalam kata-kata kerasnya. “Kalau membunuhku dapat...”


“Tidak. Aku tidak bisa membiarkanmu menemuinya disana. Setidaknya itulah yang kuharapkan.” Dia mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya. “Lakukan apa yang kau mau dan segeralah pergi. Sudah cukup aku melihat wajahmu hari ini dan kemarin.”


Berjalan kaki aku mengikuti jalan yang sudah kuketahui. Jalanan desa yang mengikuti arah tepian sungai. Langit sudah terang dan aku melihat beberapa orang berjalan di pematang sawah. Mungkin ini waktu dimulainya jam kerja bagi petani.


Aku berjalan dengan langkah yang makin kupercepat. Di langit sebelah timur, di balik pegunungan sudah terlihat semburat merah keemasan meskipun ujung celanaku basah kuyup oleh embun. Setelah mendaki dua bukit kecil, menyeberangi sungai, melewati beberapa rumah, berjalan di daerah persawahan, aku sampai di tempat itu. Masih sama seperti yang ada dalam ingatanku.


Aku melihat cahaya pertama matahari menyinari ujung-ujung ranting jati yang kering.


Tempat paling indah di desaku adalah pemakaman. Berada di satu bagian dari tanah milik keluargaku. Di atas sebuah bukit kecil yang kanan kirinya diapit oleh dua sungai berlereng terjal. Di lereng-lereng itu tumbuh bunga-bunga anggrek liar. Bunga yang akan mati jika kau mencoba memindahkannya dari tempatnya tumbuh. Pemakaman itu dikelilingi hutan jati. Dahulu tidak ada satu pun pohon disitu kecuali pohon pulai tua yang bunganya melimpah ruah pada musim penghujan. Kemudian kakekku menanaminya dengan pohon jati satu demi satu sejak dia masih kecil sambil membayangkan batang-batangnya yang tumbuh lurus akan menjadi tiang-tiang dari rumah-rumah yang akan dibangun anak cucunya kelak. Kalau kau sempat berada di sana pada saat matahari terbit atau tenggelam kau akan berpikir hidup itu lumayan menyenangkan.


Aku melepas sandal yang aku pakai di pintu masuk pemakaman yang hanya berupa dua pohon kamboja berjarak dua atau tiga meter yang ranting-rantingnya saling bertautan membentuk semacam lengkungan. Banyak sekali bunga kamboja yang gugur berserakan di tanah. Aku memungut salah satunya.


Sewaktu kecil aku suka mencari bunga kamboja dengan jumlah mahkota genap karena katanya siapa yang menemukannya akan beruntung. Aku tidak tahu kalau bunga kamboja itu makhota bunganya selalu ganjil. Aku memang tidak pernah beruntung.


Aku berjalan berkeliling sebentar lalu duduk di dekat sebuah nisan dari marmer hitam. “Aku datang untuk melihat matahari terbit bersamamu.” Aku berkata sambil melihat ukiran huruf emas di bagian kepala nisan itu. Disana terukir nama wanita itu.


Aku melihat cahaya menyilaukan memantul dari embun di pucuk-pucuk daun sesemakan liar.


Aku ingat setiap patah kata yang ditulisnya dalam surat terakhirnya padaku:


Dear I.


I knew everything that happened was to save you. Your family and your name. And that’s okay, because I love you so much. But somehow I’m always the one who get hurt. How can I deal with it?


Today, I did things I abhor to protect the one thing I value most, my pride. If anyone can understand it, it’s you. Your compassion is a gift, I. Carry it with you, as I will carry my regret. Always and forever.


Y.


Untuk pertama kalinya setelah sekian lama aku mengakui aku merasa kesepian. Barangkali inilah yang dirasakan kekasihku ketika dia berjalan masuk ke danau dan menenggelamkan dirinya.






Catatan:


Guten Morgen : bahasa Jerman berarti selamat pagi


Ngunduh wohing pakarti : memetik buah perbuatan sendiri


Hemochromatosis adalah penyakit genetis dimana tubuh mengalami ketidakmampuan memetabolisme zat besi sehingga menyebabkan kerusakan mental dan fisik. Penyakit ini banyak diderita oleh orang keturunan Eropa. Pada beberapa kasus, penyakit ini diduga menyebabkan penderitanya memiliki kecenderungan untuk melakukan bunuh diri. Hemingway dikabarkan menderita penyakit ini.


Pemakaman yang saya gambarkan dalam tulisan ini adalah pemakaman Thuk Sekar di desa Wotan kecamatan Pulung kabupaten Ponorogo. Nama Thuk itu adalah penggalan dari kata puthuk yang berarti bukit. Pemakaman ini berada di atas bukit dikelilingi hutan jati. Bukit dan tanah-tanah di sekitarnya dimiliki oleh keluarga saya sejak turun temurun.


Cerpen ini dimuat di majalah horison edisi Juni 2012

I WANT TO BE YOUR MISTRESS



Oleh Yuni Kristyaningsih Pramudhaningrat

Kata-kata itu diucapkannya dengan ringan seakan dia sedang mengucapkan selamat pagi saja. “Rasanya aku perlu melihat kamus. Barangkali ada arti kata mistress selain dari yang sudah kuketahui.”
“Kau mengajakku bercanda di hari yang sepanas ini?”
“Harusnya aku yang berkata seperti itu, kan?” Mungkinkah kelaparan membuatnya kehilangan kewarasan? Selama mengenalnya aku telah mempelajari hal yang penting yaitu bahwa satu-satunya cara untuk membuatnya kembali normal adalah dengan memberinya makanan jadi kugeser piring berisi salmon panggang saos jamur ke arahnya. “Makan yang banyak.”
“Aku tidak lapar.”
Aku berusaha mencari barangkali ada hal yang salah darinya. Dia kelihatan sebagaimana biasanya. Memakai gaun sutera putih yang berenda dan berpita. Rambutnya yang nyaris mencapai lutut dikepang gaya Perancis dan diikat dengan pita satin berwarna putih. Dia memakai kalung bergaya art deco dengan bandul sebutir mutiara. Dan aroma melati masih selalu meruap dari tubuhnya. Dia kelihatan seperti dirinya.
“So?”
Aku meneguk minumanku untuk mengalihkan perhatian. “Apa yang terjadi?”
“Aku kabur dari rumah,” katanya. Dia adalah seorang dengan jalan pikiran yang tidak lazim. Kadang-kadang dia mengatakan satu hal padahal pikirannya sedang mengarah pada hal yang lain. Aku menyayanginya tapi itu tidak mencegahku untuk menghalangi orang lain menyebutnya sebagai orang yang berbeda.
“Kenapa?”
“Aku bertengkar dengan orang tuaku. Mereka pikir ada yang tidak beres dengan diriku. Belakangan mereka ingin menikahkan aku dengan seseorang.”
Keluarganya, sangat disayangkan, tidaklah semenarik dirinya. Mereka jenis orang yang membosankan dan satu-satunya hal yang mereka takutkan adalah darah biru mereka tercampur keturunan orang biasa seakan itu sama artinya dengan turunnya martabat.
“Kalau memang tidak mau bukankah tinggal bilang “tidak”?”
“Aku ingin mereka tahu bahwa bagaimana caraku menjalani hidup ini bukanlah urusan orang lain.”
“Bukankah memang seharusnya begitu?”
“Hanya saja sekarang aku jadi tidak punya tempat untuk pulang.”
“Tinggal saja di salah satu rumahku.”
“Kenapa aku harus begitu?”
“Apa yang kumiliki adalah milikmu juga.”
Dulu saat aku masih muda dan serampangan aku sering terlibat perkelahian. Suatu hari seseorang menusukku dan itu membuatku tidak sadar selama dua atau tiga hari. Untuk menyelamatkan aku dia menjual semua perhiasannya. Ketika aku sudah pulih dan mengungkit masalah itu dia hanya tersenyum dan berkata, “Semua yang kumiliki adalah milikmu juga.” Sejak hari itu aku tahu aku tidak akan keberatan memberikan nyawaku jika itu berguna untuknya.
“Aku tidak sudi menjadi sasaran amal baikmu,” katanya. Aku mendengar nada amarah dalam suaranya.
“Siapa yang hendak menjadikanmu begitu?”
“Tapi kau berniat begitu. Itu menyinggung perasaanku.”
“Kau pikir aku tidak? Bahwa di dalam hati kau meragukan kesediaanku untuk melakukan apapun untukmu saat kau membutuhkannya itu tidak hanya menyinggung perasaanku tapi juga menghinaku.”
“Aku tidak bermaksud begitu.”
“Well then, akan kuanggap omongan ngawurmu itu akibat dari kelaparan.”
Ketika melihatnya menyuap makanan kukira aku telah berhasil membungkam mulutnya tapi ternyata beberapa lama kemudian dia berkata, “Apa aku tidak memenuhi syarat untuk menjadi wanita simpananmu?”
Aku tersedak mendengarnya.
“Syaratnya apa saja?” Dia menyodorkan segelas air kepadaku. “Cantik ya? Itu sudah pasti. Pacarmu yang terakhir itu siapa namanya, Fay ya kalau tidak salah, kan sangat cantik. Aku pernah lihat kalian. Rambutnya bergelombang dan indah sekali. Rambutku lemas dan sangat lurus. Tidak bisa diapa-apakan.”
“Aku akui seleraku terlalu biasa” kataku setelah berhasil melepaskan diri dari akibat tersedak. Aku selalu berusaha menjaga supaya dia tidak tahu menahu tentang kehidupanku yang liar karena kalau dia mengomentarinya itu akan sangat menggangguku. Dia jarang berkomentar tentang wanita-wanita yang kumiliki dan sebenarnya aku agak heran.
“Aku lumayan biasa.”
“Bi-a-sa.” Aku sengaja mengucapkannya dalam tiga suku kata.
“Aku bisa jadi biasa.”
Aku hampir tertawa mendengarnya. “Kau tidak perlu membuang-buang energimu.”
“Aku kan sedang dalam posisi untuk meyakinkanmu.”
“Jadi ini semacam proposal?” tanyaku dengan geli.
“He-eh.”
“Boleh aku tahu apa motivasimu?”
“Aku ingin bersama seorang pria.”
Aku tersedak untuk kedua kalinya. Aku mengenalnya lebih baik dari siapapun. Dia mungkin tertarik pada banyak hal di dunia ini tapi pria tidaklah termasuk di dalamnya.
“Kenapa?”
“Karena belum pernah kulakukan sebelumnya.”
“Kenapa sekarang tiba-tiba ingin melakukannya?” Aku berteman dengannya sejak aku masih bayi. Bahkan sejak masih sangat muda dia telah menjalani hidup seperti seorang santa. Saat gadis-gadis membanggakan kecantikan mereka dan mulai belajar cara-cara memikat pria dia malah mengatakan “I have made up my mind that I will never marry. I shall be wedded to my art.” Aku mengira itu hanya omongan saja tapi ternyata dia memang melakukannya. Aku tidak pernah mendengar dia jatuh cinta pada seorang pria. Aku pria tapi aku tidak malu mengakui bahwa tidak ada pria di dunia ini yang cukup baik untuknya. Tubuhnya terbuat dari gumpalan-gumpalan doa. Seorang pria hanya akan mencemarinya. “Apa ada yang mengancammu? Pria yang hendak dinikahkan denganmu itu?”
“Tidak ada. Memangnya kenapa?”
“Siapa tahu kau sedang dihinggapi ide konyol. Mungkin ide untuk membuat seorang pria terhormat mengurungkan niat menikahimu dengan cara berada dekat-dekat dengan pria bejat sepertiku.”
“Tidak ada yang seperti itu,” katanya. Lalu dia memandang dengan bola matanya yang besar dan dengan cara yang selalu membuatku ingin memasang lingkaran halo di atas kepalanya. “Apa kau pria bejat?”
“I am.”
“Apa yang dilakukan seorang pria sampai disebut bejat?”
“Banyak.”
“Oooo.”
Aku menyesap jus semangka di gelasku. Memutuskan mungkin dia perlu dihibur karena hatinya sedang terluka. Seorang malaikat kecil seperti dirinya jelas mengalami patah hati ribuan kali dalam sehari jika tinggal di dunia sekarang ini. “Aku ada meeting jam tiga nanti. Berarti masih ada waktu dua jam. Kau mau jalan-jalan?”
“Pembicaraan kita kan belum selesai.”
“Sudah.”
“Kamu menolakku ya?”
“Hanya membuatmu menyadari betapa leluconmu itu membuatku kesal.”
“Maaf.” Dia memain-mainkan sendoknya. “Aku ingin menulis tentang wanita. Banyak hal yang masih perlu kupelajari. Aku bahkan tidak mirip seorang wanita.”
“You don’t know what you talking about.” Dia selalu mengingatkan aku pada wanita dalam lukisannya Waterhouse. Dari dulu bahkan sampai sekarang aku masih sering merasa kuatir jangan-jangan di malam hari dia akan kembali ke dunianya yang sesungguhnya, di dalam lukisan.
“Hanya kau pria yang aku percayai. Biarkan aku bersamamu.”
Aku tahu aku suka bermain-main. Kadang-kadang aku tidak tahu batas antara mana yang boleh kulakukan dan mana yang tidak. Dan sama sekali tidak kenal perbedaan antara gila dan waras.
Barangkali aku sudah gila ketika pada akhirnya aku benar-benar membawanya ke rumahku. Kutempatkan dia di kamar yang paling bagus. Kubiarkan dia melakukan apapun yang dia sukai. Aku selalu berusaha untuk menjaganya dan membuat hatinya senang. Dia mengatur rumahku seperti seorang queen consort, menjadi nyonya rumah dan pendamping yang luar biasa dalam setiap kunjungan dan jamuan yang harus kuhadiri atau kuadakan. Kalau aku tidak bisa tidur dia akan membiarkan aku berbaring di pangkuannya. Aku punya banyak wanita tapi tidak pernah berbaring di pangkuan seorang wanita sebelumnya.
Aku sedang berada di pangkuannya ketika ayahnya datang. Pria tua itu terlihat begitu marah menemukan puterinya membiarkan seorang laki-laki –dan dari jenis rendahan sepertiku- berada di pangkuannya. Kepada puterinya dia berkata, “Aku datang untuk mengatakan kalau kau bukan lagi bagian dari keluarga.....” Dia menyebutkan nama keluarganya. “Kami akan melupakan kalau kau pernah ada.” Kemudian pria itu pergi.
Aku melihat sahabatku diam. Dia menggulung-gulung ujung rambutnya dengan telunjuknya sebagaimana kebiasaannya kalau sedang resah. Aku duduk di dekatnya, cukup dekat untuk dapat mendengar detak jantungnya. “Aku adalah keluargamu,” kataku. Dia mendongak menatapku. “Aku adalah keluargamu.” Aku mengulanginya. Lalu kulihat dia tersenyum. Aku tidak punya keluarga. Dengan senyumannya itu dia menjadi satu-satunya keluargaku.
Aku menyuruh seorang pelukis untuk melukis kami berdua. Lukisan itu kupajang di ruang tamu dan setiap aku pulang aku memandangnya dan mengingat bahwa sebagai keluarga kami bisa sangat bahagia.
Dia mempunyai seorang teman laki-laki yang dipanggilnya sebagai Seven. Aku tidak pernah menyukai Seven. Suatu hari Seven datang mengantarkan kaca matanya yang ketinggalan. Perasaanku tidak enak.. Bagaimana mungkin seseorang yang punya masalah penglihatan, yang tidak dapat melihat dengan jelas sesuatu yang jaraknya lebih dari dua meter di depannya dapat ketinggalan benda sepenting itu?
Ketika dia datang dan melihat kaca matanya dia terlihat gembira. “Beruntung aku bisa pulang ke rumah tanpa terjatuh,” katanya.
“Apa yang kau lakukan di rumah Seven sampai kau perlu melepas kaca mata?” tanyaku.
“Aku melepasnya sewaktu mandi. Aku lupa memakainya kembali.”
“Apa yang kau lakukan sampai perlu mandi?”
“Terlalu asyik bermain-main dengan warna jadi gerah.”
“Apa maksudnya ‘terlalu asyik bermain-main dengan warna’?”
“Aku mencoba mencampur beberapa warna. Aku ingin membuat ‘kecelakaan yang indah’ tapi jadinya malah kacau sekali.” Dia tertawa. Kelihatan senang.
“Di mana Seven saat kau mandi?”
“Aku tidak yakin. Aku kan sedang mandi.”
“Di luar atau di dalam?”
“Aku tidak mengerti maksud pertanyaanmu.”
“Dia ada di luar atau ada di dalam bersamamu?”
Dia mendongak memandangku. “Ada apa denganmu? Perasaanmu sedang tidak enak?”
“Jawab aku. Dia di luar atau di dalam?”
Dia memandangku lalu tertawa. “Aku tidak tahu apa yang ada di kepalamu, tapi dia kan cuma Seven.”
“Dan aku juga cuma aku.”
“Apa maksudmu?”
“Bagimu aku cuma aku sebagaimana semua orang lain juga cuma orang lain. Benar, kan?”
“Aku…aku tidak pernah berpikir seperti itu.”
“You hurt me.”
Aku tidak tahu kenapa aku bisa begitu marah. Aku tidak tahu kenapa ada api yang berkobar tidak hanya di kepalaku tetapi juga di seluruh tubuhku. Aku tidak tahu kenapa kemudian aku menjadikan tubuhnya sebagai telaga untuk memadamkan api yang berkobar di setiap selku itu. Aku tidak tahu kenapa setelahnya aku bahkan tidak bisa mengatakan menyesal. Aku yang sebelumnya bahkan tak berani masuk ke dalam kamarnya sekalipun aku sangat menginginkannya entah kenapa tiba-tiba menjelma menjadi setan di depannya. Satu-satunya yang aku tahu adalah bahwa mengembara di tubuhnya membuatku merasakan kedamaian dan melihatnya menangis, dalam diam dan pesona kecantikan yang luar biasa, membuatku merasa seperti tersesat dalam lukisannya Pollock.
Esok harinya, aku tidak dapat menemukan dirinya di mana pun di rumah. Hampir gila aku mencarinya. Tapi seolah dia lenyap ditiup angin.
Aku mencarinya kemana-mana. Aku mendatangi keluarganya, teman-temannya bahkan setiap tempat yang pernah dia bicarakan tapi tetap tidak bisa menemukannya. Mungkinkah dia kembali ke tempatnya, di dalam lukisan?
Bertahun-tahun kemudian aku melihat namanya di sampul sebuah novel di toko buku. Susah payah aku mendapatkan alamatnya. Sebuah rumah kecil di pedesaan, dinaungi pohon jambu dan semak melati tumbuh dimana-mana memenuhi halaman. Aku menunggu saat yang benar-benar tepat untuk menemuinya. Barangkali setelah aku selesai membaca novel yang kalimat pembukanya berbunyi “I want to be your mistress” itu. Barangkali setelahnya aku bisa tahu kenapa dia pergi.

Catatan:
  1. John William Waterhouse (1849-1917) adalah pelukis berkebangsaan Inggris. Dia terkenal terutama karena mengkhususkan diri melukis tokoh wanita yang ada dalam mitologi dan karya sastra. Beberapa karyanya yang terkenal antara lain Flora, Windflower dan Ophelia. Lukisannya memakai warna-warna yang indah dan selalu menggambarkan wanita yang sangat cantik.
  2. Jackson Pollock (1912-1956) adalah pelukis aliran abstrak ekspresionis berkebangsaan Amerika. Lukisan yang dimaksud adalah lukisannya yang berjudul Number 1, Lavender Mist yang dibuat pada tahun 1949.
Cerpen ini dimuat di majalah Femina no 20  Mei 2012