Tuesday, 26 April 2016

Ketika Bunga Odamaki Bermekaran


Oleh Yuni Kristyaningsih Pramudhaningrat


Kemana semua kata ketika aku ingin menulis sebuah puisi tentangmu?
Sebuah halaman microsoft word terbuka di laptopnya. Orang menulis puisi untuk berbagai alasan. Beberapa untuk alasan yang mulia, tentang berbagi perasaan keindahan terhadap sesama misalnya, tetapi beberapa yang lain menulis puisi hanya untuk alasan yang bukan apa-apa. Seperti yang kini sedang dilakukannya.
Danurwenda telah sampai pada usia dimana buku-buku yang dipajang di toko buku tidak lagi memuaskan hatinya. Semua buku terlihat memiliki satu atau dua kesalahan yang menurutnya terlalu konyol untuk ada dalam sebuah buku. Dia sudah senang membaca buku sejak balita jadi perasaan seperti itu sangat mengganggunya. Dia berpikir menulis buku dengan caranya sendiri akan sedikit membantu.
Dia menentang sama sekali ide memakai pengalaman pribadi untuk menulis karena seseorang mungkin akan terluka karenanya, tapi dia selalu teringat kepada wanita itu saat dia ingin menulis sesuatu.
Aku terlalu muda untuk hidup di dalam kenanganmu,” kata wanita itu, dulu saat Danurwenda mengaku mulai menulis puisi sejak bertemu dengannya.
Kau tidak suka?”
Diabadikan sebagai gadis muda siapa yang tidak mau?” Gadis itu tertawa. Suara tawanya seperti bunyi lonceng dari masa yang jauh. “Tapi penyair hanya menulis apa yang dikenangnya. Sesuatu yang telah berlalu. Itu sangat menyedihkan.”
Dia tidak terlalu mengerti apa bedanya masa lalu dan masa sekarang. Jika menyangkut wanita itu rasanya semua masa sama saja. Mengekal entah bagaimana.
*
Bagaimana bisa kita kembali seperti kita semula, dua orang asing yang datang dari dua arah berbeda, lalu menjadi teman untuk menikmati apa yang kita simpan di dalam hati kita masing-masing, apa yang disebut-sebut sebagai impian dan harapan?
Siapa nama kecilmu?” Mereka telah berteman selama tiga bulan ketika dia berpikir saling memanggil dengan nama belakang adalah konyol. Mereka mengambil beberapa kelas yang sama dan sekali dua kali berjalan ke kampus bersama-sama. Danurwenda menganggap gadis itu sangat menarik.
Asami.”
Bagaimana menuliskannya?”
Huruf ‘asa’ dan ‘utsukushii’.”
*
Apakah itu yang disebut cinta, sesuatu yang muncul di hati yang menjadi murung oleh kesendirian?
Danurwenda tidak tahu kenapa mereka bisa bersama atau bagaimana. Dia hanya tahu dia sedang jatuh cinta. Mungkin peri-peri bunga odamaki telah menyihir hatinya. Dia tidak tahu. Dia hanya tahu cintanya akan menyakiti gadis itu.
Gadis itu tentu saja masih lugu sebelum bersamanya. Ia memiliki keriangan yang manis dari seorang gadis sekaligus kesungguhan yang mengerikan dari seorang kekasih muda yang mencintai dengan seluruh kedalaman jiwa, menganggap seluruh kata-katanya sebagai kebenaran dan meyakini mereka memiliki cinta yang besarnya seimbang terhadap satu sama lain tanpa benar-benar menyadari bahwa pria dan wanita berbeda dalam semua hal mengenai cinta.
Kimonomu bagus sekali.” Hari itu Asami memakai kimono biru muda bermotif ranting-ranting pohon bunga camelia dan obi berwarna salju keperakan dengan sulaman burung bangau. Mereka sedang berjalan keluar dari stasiun Komagome karena Asami ingin melihat pohon keyaki di taman Rikugien. Sungguh aneh bahwa gadis itu memakai kimono yang indah untuk melihat pepohonan.
Benarkah? Aku tidak cocok memakai baju yang lain. Gaun modern membuatku seperti dahan pohon mati.”
Di Jepang bahkan dahan pohon mati pun tampak indah.”
Astaga!” seru wanita itu dengan nada menegur.
Dia tertawa. “Aku serius. Kalau seseorang memotretmu memakai baju tertentu, gadis-gadis akan berbondong-bondong membeli baju yang sama.”
Apa kau ingin bilang kalau aku cantik?”
Apa kau tidak sering melihat cermin akhir-akhir ini?”
Aku tidak suka cermin.”
Para gadis biasanya memandang ke cermin setidaknya beberapa kali sehari.”
Aku tidak terlalu suka melihat bayangan yang terlihat di dalam cermin. Selalu tampak mengerikan di mataku.”
Bagian mana dari dirimu itu yang mengerikan? Kau selembut anak burung merpati.”
Selembut anak burung merpati.” Asami bergumam mengulangnya. “Aku berharap aku selembut anak burung merpati.”
Mereka melewati Naitei Daimon. Tapi meskipun pohon weeping cherry itu telah menjadi obyek foto populer di taman itu Asami tidak berhenti untuk melihatnya. Dia pernah mengatakan kalau pohon itu membuatnya sangat sedih. Dia lebih menyukai pohon keyaki yang menurutnya memiliki kesan yang hangat. Danurwenda tidak tahu apapun tentang pepohonan.
Di dekat kolam yang di tepinya tumbuh semak-semak azalea berusia ratusan tahun, Asami memekik kecil. Danurwenda mengira gadis itu digigit serangga. Tapi ketika dia menghampirinya dia melihat gadis itu sedang duduk berjongkok mengamati rumpun bunga liar.
Luar biasa, bukan?”
Ya?”
Ini bunga odamaki. Beruntung sekali kita menemukannya disini.”
Jelas bagi Asami itu seperti sebuah penemuan. Danurwenda tidak ingin merusaknya, jadi dia ikut duduk bersamanya ketika gadis itu membuat sketsa bunga itu.
Aku sangat suka bunga odamaki,” kata Asami kira-kira setengah jam kemudian.
“Kenapa?”
“Itu bunga yang paling manis di padang rumput.” Dia menyentuh kelopak bunga itu dengan jari-jarinya yang kecil dan runcing. “Kau tahu, kau bisa membuat teh dari bunga ini, tapi kalau kau keliru menakarnya kau mungkin akan mati. Bunga ini beracun.” Dia menelengkan kepalanya ke arahnya. “Bunga ini persis sepertimu.” Dia tertawa. “Aku akan meminumnya juga meski tahu akan mati.” Berkata begitu gadis itu tampak seperti patung porselen. Terpahat di dalam ingatannya.
*
Apa yang disebut cinta itu barangkali seperti neurotransmitter yang meluap di otak. Membuat orang merasa seakan sedang terjatuh. Pernahkah kau melihat orang yang sedang terjatuh mampu menolong dirinya sendiri?
Jari mana yang paling kau sayangi?” Mereka sedang berbaring bersama menikmati angin musim semi. Asami memegang tangannya dan mempermainkan jari jemarinya. Dia mengaku punya ketertarikan tersendiri pada tangan manusia. Dia menggambar banyak sketsa tangan. Asami biasa menghabiskan waktu luangnya untuk melukis.
Ibu jari mungkin.”
Kenapa?”
Dulu aku pernah mematahkannya sewaktu berlatih karate. Selama sebulan aku tidak melihatnya karena digips. Aku menangis karena kupikir jariku hilang atau semacamnya. Aku ditertawakan ibuku.”
Kau tahu, ada suku di Afrika yang punya kebiasaan memotong jari orang yang berkhianat.”
Benarkah?” Pagi sebelumnya Danurwenda pergi ke kantor pos untuk mengirimkan istrinya yang sangat suka menjahit, beberapa potong kain katun jepang. Bukti pengirimannya ada di saku mantelnya, dan karena Asami punya kebiasaan mengosongkan kantungnya mungkin saja dia tadi sempat melihatnya.
Kau takut?”
Aku tidak tahu bagaimana caranya untuk merasa takut.” Dicintai oleh kekasih semacam dia membuat Danurwenda sangat sombong. Dia bahkan dengan bodohnya merasa yakin Asami tidak menginginkan sesuatu yang lebih serius setelah luapan hormonnya usai, sesuatu seperti menjadi tua bersama-sama misalnya, karena tahu itu akan merepotkannya. Itulah kenapa pembicaraan yang mengarah pada kecemburuan selalu berakhir tak lebih dari sebuah candaan.
Kalau jarimu dipotong?”
Dia tertawa. “Kalau begitu aku akan menganggapnya seperti sebuah bekas luka dalam peperangan. Laki-laki biasa membanggakan bekas luka di tubuhnya.”


*
Bagaimana bisa aku berpikir meninggalkanmu adalah sebuah kebajikan dan mengkhayalkan surga sebagai imbalannya? Surga seperti apa yang tersedia bagi para kekasih yang meninggalkan cintanya di kaki nasib yang sama sekali tidak peduli?
Perpisahan itu dia hanya mampu mengingatnya samar-samar. Ada banyak kisah cinta di dunia, yang terlihat seakan-akan mampu mengobarkan seluruh api yang ada tapi kemudian padam dan menghilang dengan begitu saja.
Bagaimana aku harus bertanggungjawab terhadapmu? Badan yang kugunakan untuk mencintaimu ini bahkan aku tidak memilikinya seorang diri.” Danurwenda mengulang pertanyaan itu setiap pagi dimana dia terbangun dan melihat Asami bergelung di ranjangnya.
Asami biasanya hanya tertawa dan mengatakan kalau tidak ada orang di dunia ini yang memiliki apapun untuk diri mereka sendiri. Tapi pagi itu, pagi di bulan November yang dingin, gadis berkata “Kau meresahkan dirimu dengan hal-hal yang tidak berguna atau kau mengatakan kau menyerah mengenai aku?”
Mungkin salah satunya benar.”
Kukira aku membawa kebahagiaan padamu.”
Kau memang membawa kebahagiaan bagiku. Tapi aku adalah ketidakadilan bagimu.”
Aku tidak pernah menganggapmu begitu.”
Percakapan seperti itu berulang beberapa kali. Danurwenda tidak bermaksud apa-apa, hanya menyatakan kesedihan di hatinya, tanpa menyadari kalau kata-katanya membebani Asami. Gadis itu menjauhkan diri perlahan-lahan dan benar-benar pergi sebelum dia menyadarinya.
*
Aku tak punya satu kata pun tentang cinta. Atau tentangmu.
Dia menatap halaman kosong itu dengan termangu. “Menjadi penulis ternyata tidak semudah yang kubayangkan,” katanya. Hanya seorang sadomasokis gila yang mau mengorek-ngorek luka di dalam hatinya sendiri demi sebuah tulisan.
Jangan mudah menyerah.” Dia mendengar suara di belakangnya. Rupanya kata-katanya cukup keras untuk bisa didengar istrinya yang sedang memasak di dapur. “Tulisanmu kan bagus.”
Setelah berpisah dengan Asami dia mengirimkan tiket untuk istrinya dan mengatakan kepadanya kalau dia tidak tahan tinggal jauh darinya. Memerlukan waktu untuk mengurus visa tapi urusan itu selesai lebih cepat dari yang dia kira dan ketika istrinya datang dia merasa seolah telah seribu tahun berpisah dengannya.
Istrinya bahkan datang bersamanya saat pemakaman Asami. Istrinya mengatakan gadis itu tampak cantik di dalam peti matinya dan sepanjang perjalanan pulang ia menyatakan rasa kasihannya kenapa gadis yang begitu muda memilih menenggelamkan diri daripada meneruskan hidupnya. “Mungkin dia bertemu dengan pria yang tidak baik,” kata istrinya dengan kesedihan khas wanita. Danurwenda tidak mengatakan apa-apa. Istrinya mengenalnya sebagai orang yang selalu menyayangi siapapun yang dikenalnya jadi saat melihatnya murung ia hanya menyentuh tangannya dengan prihatin. Dia masih tinggal di Jepang selama dua musim panas berikutnya. Ketika bunga-bunga odamaki bermekaran dia menghindari berjalan-jalan di taman. Dia menjalin hubungan yang manis dengan istrinya dan pada awal tahun berikutnya istrinya melahirkan bayi yang cantik.
Terima kasih,” katanya. Menutup file puisi itu. “Tak seorang pun sebaik kau mau mengatakan itu.”
Istrinya hanya tersenyum.
Catatan:
  • Asa adalah huruf kanji yang berarti ‘pagi’
  • Utsukushii adalah huruf kanji yang berarti ‘indah’
  • Rikugien adalah taman yang terletak di Bunkyo-ku, Tokyo. Taman ini dibangun di tahun kelimabelas periode Genroku (1702) pada masa kekuasaan Tokugawa Tsunayoshi. Didesain berdasarkan puisi waka, dengan jalan-jalan setapak, gunung, kolam dan jembatan batu tempat menikmati cahaya bulan dan burung-burung bangau, yang menjadi tipikal taman di jaman edo. Taman ini terkenal dengan pohon weeping cherry, keyaki dan dodan tsutsuji berusia 300 tahun.
  • Naitei Daimon adalah gerbang yang berada di dalam taman rikugien yang memungkinkan pengunjung untuk menikmati bagian pusat taman itu. Di dekatnya ada pohon weeping cherry yang sangat indah
  • Odamaki adalah nama jepang untuk bunga columbine. Masuk dalam genus Aquilegia. Merupakan bunga liar yang tumbuh pada akhir musim panas sampai musim gugur, dapat ditemukan di padang-padang rumput, hutan dan lereng-lereng gunung. Columbine umumnya memiliki mahkota bunga berwarna biru, kuning hingga putih pucat. Tumbuhan ini memiliki bunga yang indah tetapi biji dan akarnya sangat beracun, penggunaan dalam dosis yang tinggi dapat menyebabkan pendarahan pada jantung dan organ dalam. Columbine sering dipakai dalam studi mengenai evolusi. Bila ditinjau dari bahasa bunganya columbine dianggap mempunyai arti ‘pasti akan kudapatkan’
  • Secara sederhana, dapat dikatakan neurotransmiter merupakan bahasa yang digunakan neuron di otak dalam berkomunikasi. Neurotransmiter muncul ketika ada pesan yang harus di sampaikan ke bagian-bagian lain. Neurotransmitter berwujud senyawa organik endogenus. Dianggap berperan penting dalam perilaku individu. Contoh neurotransmitter yang dihubungkan dengan cinta adalah dopamine

Cerpen ini dimuat di majalah Horison edisi April 2016




Monday, 25 January 2016

Dalam Badai



Oleh Yuni Kristyaningsih

Angin menderu-deru, membawa suara serupa jeritan binatang yang terluka. Itu suara mengerikan yang membuat Utari terjaga sepanjang malam. Ada hukuman Tuhan dalam angin itu. Dia mempercayainya dan suara itu lebih meresahkannya lagi. Tapi rumah itu terbuat dari batu, telah berdiri kokoh selama hampir seratus tahun, tentu saja angin yang biasa datang di musim dingin itu tak berpengaruh apa-apa padanya.
Utari sedang duduk di sofa di dekat perapian, menyulam gambar bunga mawar pada sebidang kain satin. Dia membenci suara angin itu dan segala-galanya tentang musim dingin. Dia tahu Tuhan meletakkan keindahan pada tempat-tempat yang tepat dan itu tidak dapat diragukan lagi tapi hatinya yang muram hanya sanggup memandang hal-hal dengan cara yang sama muramnya dengan hatinya.
Dia mendengar suara pintu terbuka. Dia mengira itu pelayannya yang datang membawakan obat untuknya. “Aku tidak berpikir obat itu ada manfaatnya,” katanya. Dia telah mengatakan itu setiap malam dan mendengar jawaban yang sama dari pelayannya.
Tapi malam itu dia tidak mendengar jawaban itu. Dia begitu terkejut sampai jarinya tertusuk jarum. Dia melihat pria itu berjalan masuk ke kamarnya. Pria itu tidak mengenakan pakaian tidur tapi celana dan kemeja biasa. Sepertinya dia baru pulang kerja, baru akan berganti pakaian tapi kemudian terganggu oleh suatu pikiran tertentu, kemejanya tidak dikancingkan. Dia membawa nampan berisi mangkuk obatnya dan beberapa butir buah delima.
Pria itu meletakkan nampan itu di meja. Dia melihat pada Utari yang menghisap ujung telunjuk tangan kirinya lalu pada sulaman bunga mawar yang sangat indah terbingkai lingkaran kayu di pangkuannya. “Kau menyibukkan dirimu sendiri dengan hal-hal yang tidak berguna,” katanya. “Tidak heran kesehatanmu tidak juga membaik.”
Ini untuk acara amal,” kata Utari dengan gugup. Dia membuat hiasan-hiasan yang cantik bersama teman-temannya dan melelangnya. Uang yang mereka hasilkan disumbangkan untuk membantu korban bencana alam dan tragedi perang.
Kalau kau meminta padaku aku mungkin akan memberikan uang sepuluh atau seratus kali lebih banyak dari yang kau hasilkan dengan pekerjaanmu itu.”
Aku membuatnya sambil berdoa,” sahut Utari sambil meletakkan sulamannya di meja. “Itu yang membuatnya berharga. Tapi di dunia yang buruk ini hal-hal ironis memang sering terjadi. Seperti kau yang bisa menghasilkan lebih banyak uang dari orang lain yang bekerja lebih keras. Tapi aku tidak mau menari untukmu.”
Menari?”
Sepuluh atau seratus kali lipat itu bukannya menyangkut harga yang harus kubayar?”
Pria itu tertawa. “Aku tidak tahu kau suka menghubungkan aku dengan hal-hal yang kotor dan mesum. Itu menarik sekali. Tadinya aku cuma mau kau duduk di pangkuanku sementara aku menandatangani ceknya.”
Utari merasa pipinya panas. “Ada perlu apa kau datang kemari?”
Pertanyaan seperti itu melukai hatiku.” Pria itu telah tidak mengunjungi kamarnya selama berbulan-bulan. Utari menikmati malam-malam yang tenang selama itu meskipun tahu malam ketika pria itu datang kembali akan tiba cepat atau lambat. Dia duduk, nyaris dengan cara seperti melemparkan tubuhnya di dekat Utari tadi duduk. “Minumlah obatmu selagi masih hangat,” katanya. “Aku curiga kau membuang obat itu diam-diam. Kau sangat kurus seperti batang seledri.”
Pria itu menatapinya sedemikian rupa sehingga Utari meraih mangkuk obatnya. Pria itu memotong dasar buah delima dengan pisau buah dan mengiris buah itu dengan cara seolah itu adalah buah jeruk dengan juring-juringnya. Dia mengulurkan potongan buah itu kepada Utari. Utari ingin memalingkan wajah tapi obat itu sangat pahit dan dia suka buah delima jadi dia memungutnya dari tangan pria itu dan memakannya.
Itu obat untuk rahimmu. Aku tidak tahu kenapa kau meminumnya dengan enggan begitu. Bukankah bagi wanita rahim adalah harta yang berharga? Atau lebih tepatnya senjata yang berbahaya?”
Utari memandangnya. Pria itu mengangkat bahunya. “Aku mengenal banyak pria yang terjebak dalam drama domestik yang membosankan dan tidak bisa melepaskan diri dari hubungan dengan wanita yang sebenarnya mereka benci hanya karena wanita-wanita itu telah melahirkan anak-anak mereka. Kau tahu, pria biasanya selalu terjebak dalam delusi bahwa dia adalah seorang raja dan hartanya adalah kerajaannya, dia meyakini bahwa seorang raja tidak harus memiliki seorang ratu tapi dia wajib memiliki seorang pewaris. Biasanya wanita membuat ulah karena tidak bisa menerima itu. Dalam delusinya wanita berpikir bersama seorang pewaris seorang ratu bisa menganulir kekuasaan seorang raja. Begitulah bagaimana neraka seorang pria dimulai.”
Tapi kalau kau bertanya apa pendapatku,” pria itu melanjutkan, “aku mau-mau saja berada di dalam neraka itu selama kamu yang menarikku ke dalamnya. Sayangnya kau bahkan tidak berpikir untuk menggunakan rahimmu untuk menjerat kakiku.”
Yang lahir dari rahim itu adalah seorang manusia bukan? Apakah pantas seorang manusia lahir dari seseorang seperti kau dan aku? Itu hanya akan melukai nilai-nilai kemanusiaannya saja.”
Seseorang seperti kau dan aku itu seperti apa?”
Orang yang jiwanya dirusak kebencian.”
Apa katamu?”
Mereka telah lama berada dalam hubungan dimana mereka tidak lagi merasa perlu menyembunyikan apapun yang ada di dalam pikiran mereka. Mereka menganggap itu sebagai kebencian tanpa menyadari kalau hubungan seperti itu jauh lebih menarik dari hubungan lain yang lebih stabil.
Aku akan menganggap kau mengatakan itu atas nama kesedihanmu karena kematian bayimu,” kata pria itu. Itu pertama kalinya sejak hari yang menyedihkan itu dia membahasnya. “Itu kecelakaan yang menyedihkan. Seandainya aku mendapat pemberitahuan lebih awal soal bayimu.”
Bukankah aku sudah memintamu untuk menjauhiku?”
Bagaimana aku bisa menghubungkan antara penolakanmu, sesuatu yang kau lakukan padaku setiap hari, dengan seorang bayi? Lagipula apa yang membuatmu berpikir aku akan menjauhimu hanya karena seseorang memintanya? Itu mustahil.”
Kau tidak mengerti apa-apa selain membela dirimu sendiri.”
Kuharap suatu saat kau punya minat lain selain membenciku.”
Bertram tidak mau mengakui bahwa hubungan mereka adalah cinta sepihak. Wanita itu mungil dan manis, seperti seorang malaikat belia, ketika mereka pertama kali bertemu. Di dalam dunianya wanita yang seperti malaikat seperti dia tidak ada. Demikian juga di dalam dunia Utari pria yang seperti setan sepertinya tidak ada. Utari akan terkejut kalau tahu Bertram menghabiskan banyak waktu memikirkan bagaimana cara memiliki dirinya. Bahkan Bertram sendiri pun terkejut. Dia melakukan segala cara agar mereka memiliki hubungan. Dan apa yang lebih nyata dibanding seorang bayi? Ketika diberitahu bahwa sikapnya yang sembrono telah menyebabkan Utari keguguran dia menjadi setengah gila. Para pelayan butuh waktu lama membersihkan pajangan-pajangan yang pecah dan benda-benda berharga yang dirusaknya. Ketika dia tidak dapat tidur di malam hari dia mulai minum minuman keras. Dokter-dokter didatangkan untuk merawat Utari. Rahimnya lemah dan kesehatannya juga tidak begitu baik. Tapi Bertram tidak datang menjenguknya. Tidak ada yang bisa mengira kalau kehilangan bayi itu telah mematahkan hatinya.
Ada suara mengerikan seperti suara kuku-kuku menggaruk di kaca-kaca jendela. Barangkali ranting-ranting pohon. Biasanya ada satu ada dua dahan pohon yang patah dalam badai semacam itu. Angin membuat suara gaduh yang tidak menyenangkan.
Di hari dengan badai yang serupa mereka kehilangan bayi itu. Mengikuti dorongan hatinya pria itu bergerak untuk memeluknya. Secara refleks Utari meraih mantel yang seharusnya melapisi gaun tidurnya. Gaun tidurnya terbuat dari bahan renda yang mahal. Meskipun sangat nyaman dipakai tapi gaun itu tidak menyembunyikan apapun dan itu mengganggunya.
Bagaimana mungkin kau berpikir selembar kain akan bisa melindungimu dariku?” Wajah pria itu menyiratkan ekspresi geli. Dia mengangkat tubuh Utari dan meletakkannya di pangkuannya. Pada malam-malam yang meresahkan hati, hanya dalam keadaan itulah, dengan wanita itu dalam pelukannya, dia bisa tidur.
Ini sedang badai. Bukankah seharusnya kau tidak memikirkan hal lain selain Tuhan?” kata Utari ketika menyadari dia tidak dapat menghindar dari hasrat pria itu.
Aku memikirkan Tuhan. Bukankah Dia yang memberikanmu kepadaku? Kenapa aku dicela karena menikmati pemberian-Nya?”
Utari dan penolakannya sudah seperti semacam ritual. Laki-laki terhormat biasanya akan kehilangan minat pada sesuatu yang tidak menerimanya. Tapi memang tidak ada hal terhormat yang dapat ditemukan pada dirinya. Dan lebih parah lagi karena dia mengakuinya. Kepada Utari dia tidak pernah menyembunyikan maksud dan tujuannya. Utari menganggapnya mengerikan. Tapi pria itu menikmati reaksi Utari atas semua tindakannya. Dia merasa dirinya diberkahi dengan selera humor yang luar biasa.
Sepertinya memang ada pohon yang tumbang karena badai –rumah itu dikelilingi kebun dengan pepohonan yang telah berusia puluhan tahun- dan angin yang bertiup kencang menghempaskan pohon itu sehingga sebagian rantingnya mengenai jendela. Suara yang ditimbulkannya terdengar menyedihkan.
Pria itu meraih satu juring delima dari meja dan mengulurkannya ke mulut Utari. “Makanlah lebih banyak. Bibirmu masih menyisakan rasa pahit obat,” katanya. Juring delima itu berada begitu dekat di mulutnya sehingga sebelum Utari menyadarinya, butiran buahnya telah pecah di lidahnya.
Aku sangat senang setiap kau memakan buah delima,” ucap pria itu lagi. “Aku terdorong untuk percaya buah itu mengandung sihir.”
Kenapa?” Mengajaknya berbicara kadang berhasil mengalihkan perhatian pria itu meskipun tidak sering.
Apa kau tahu cerita tentang Hades dan Persephone?”
Aku tidak suka cerita-cerita tentang laki-laki yang menipu wanita.”
Bertram tidak mempedulikan ucapannya. “Ketika Hades disuruh berpisah dari Persephone dan dia tidak punya cara lain untuk menghindarinya, dia memetik buah delima dari kebunnya untuk gadis itu. Persephone memakannya tanpa curiga. Karena buah itulah kenapa setiap musim dingin gadis itu akan selalu kembali kepada Hades tak peduli seberapa jauh pun dia telah pergi.”
Pria yang licik,” gumam Utari sibuk menghindari ciumannya. “Dalam seni, Persephone selalu digambarkan berwajah murung.” Dia mungkin saja akan mengatakan hal-hal lain kalau pria itu tidak menciumnya. Ciumannya seperti angin badai yang menghempaskan Utari ke arah yang tidak dia kehendaki.
Bertram melepaskan ciumannya sesaat setelah menyadari Utari kehabisan nafas. “Aku menerima surat dari kakakmu,” kata pria itu tiba-tiba.
Surat untukku atau untukmu?”
Utari tahu suaminya membaca semua surat yang datang untuknya, bahkan kadang menyembunyikan satu atau dua surat. Tentu saja dia melakukan itu hanya untuk mengganggunya.
Kakakmu mengembalikan pinjamannya. Dia mengirimiku cek.”
Ayah Utari menjalankan perkebunan dan perusahaannya nyaris seperti badan amal. Dia mempertahankan para pegawainya, orang-orang yang telah dia kenal sejak kecil, dan memberikan gaji yang layak tanpa mempedulikan kenyataan bahwa mereka hanya menghasilkan sedikit keuntungan untuknya. Ketika perusahaan itu diwariskan kepada kakaknya mereka berada di ambang kebangkrutan. Karena itu aset yang dimiliki keluarga mereka sejak beberapa generasi, ide untuk menjual perusahaan itu sama sekali tidak bisa diterima. Kakaknya meminjam uang dari pria itu. Anehnya pria itu tidak tertarik pada upaya pengembaliannya. Dia mengatakan akan memberi jangka waktu yang tidak terbatas asal mereka menjadikannya keluarga. Siapa yang menduga kalau yang diinginkannya adalah pernikahan. Utari sama sekali tidak mengenal pria itu tapi mendengar hal-hal buruk mengenainya sehingga rencana pernikahan itu menyakitkan hatinya. Tapi itulah yang kemudian terjadi. Pria itu membawanya ke negaranya. Utari mengira setelah satu atau dua tahun kakaknya akan menyelesaikan urusan hutang itu sehingga dia bisa pulang tapi itu hanya angan-angannya saja.
Kakakmu bilang minggu ini aku harus menyelesaikan pemindahan kepemilikan perkebunan dan perusahaan keluargamu. Dia juga bilang aku harus segera menyelesaikan urusanku denganmu. Sudah menduga reaksimu akan seperti itu. Kau begitu gembira sampai-sampai kegembiraan itu mungkin bisa membunuhmu. Sudah jelas kau tidak menunggu semenit pun untuk pergi dariku.”
Aku, seperti yang kau harapkan, akan merusak kegembiraan itu. Aku mungkin akan mengembalikan tanah pertanian dan perusahaan keluargamu, aku tidak memerlukannya, tapi aku tidak akan mengembalikanmu.”
Kenapa?”
Kenapa kau bertanya kenapa?”
Hubungan kita sangat rumit dan itu menyusahkan kita berdua. Bukankah seharusnya kau senang kita punya cara untuk menyelesaikannya?”
Aku tidak ingin ada yang selesai di antara kita.” Pria itu membenamkan wajahnya di lekukan leher Utari. Rambut-rambut kasar di wajahnya menyentuh nadinya. “Aku ingin, ah, tidak, aku bermaksud, dan jelas aku akan memastikan maksudku tercapai, untuk bertengkar denganmu dan memelukmu setiap hari, seperti ini, dari sekarang hingga seribu tahun yang akan datang.”
Utari terganggu dengan caranya berbicara. Saat bersamanya pria itu punya kebiasaan berbicara dengan mulut berada di kulitnya. Pada malam-malam tertentu saat pria itu bepergian dia mengingat hal-hal seperti itu dan membuatnya luar biasa resah.
Bertram menyentuh sisi wajahnya. Utari selalu heran kenapa pria itu selalu memperlihatkan ekspresi yang memilukan saat bersamanya atau berbicara dengannya, ekspresi yang sama yang dia lihat dalam lukisan-lukisan mengenai sepasang kekasih. “Aku tahu dalam kehidupan ini kau memberikan cintamu padaku itu hal yang tidak mungkin. Tapi kita cuma hidup satu kali. Kau disini. Bukan di tempat lain. Kau menjalani kehidupan ini denganmu. Bukan dengan orang lain. Itu sebuah kesempatan bagiku, bukan?” Pria itu selalu memeluknya seperti bagaimana Bernini menggambarkan kisah Persephone.
Kadang-kadang,” kata pria itu, “yang benar-benar kuinginkan adalah kau menemukan kenyataan bahwa pelukanku adalah satu-satunya tempatmu untuk tidur.”
Angin musim dingin menderu-deru di luar. Dan kelihatannya tidak akan berhenti untuk waktu yang lama.


Catatan:
  • Dalam leganda Yunani Persephone diculik saat dia sedang mengagumi satu rumpun bunga daffodil yang secara aneh memekarkan seratus kuntum bunga, Hades muncul dengan keretanya dari dalam tanah dan membawa gadis itu pergi ke tempat yang tidak disinari matahari. Penculikan itu membuat repot semua orang. Ketika Hades terpaksa harus mengembalikannya karena desakan semua orang, dia memberi Persephone buah delima. Persephone sempat memakannya sedikit tanpa menyadari kalau siapapun yang memakan makanan dari tempat tinggal Hades harus menghabiskan waktu disana untuk selamanya. Akibatnya dalam setahun, di musim dingin, dia terpaksa harus meninggalkan rumahnya yang dipenuhi bunga-bunga untuk bersama Hades tinggal di tempat yang muram
  • Gian Lorenzo Bernini memahat The Rape of Proserpina sepanjang tahun 1621 hingga tahun 1622. Patung bergaya baroque itu terbuat dari marmer setinggi 89 inchi. Menggambarkan dengan begitu dinamis peristiwa penculikan Persephone. Bernini memahat dengan detail kulit, helai-helai rambut dan air mata Persephone. Hades digambarkan melingkarkan lengannya ke pinggang gadis itu ketika Persephone berusaha untuk melepaskan diri, jari jemarinya yang berada di kulit Persephone dipahat begitu detail, sehingga dianggap menggambarkan perpaduan yang begitu mengagumkan antara kelembutan dan kekejaman yang kontras. Patung itu kini disimpan di Galleria Borghese di Roma, Italia.

Monday, 10 March 2014

Bulan Pagi Hari



Oleh Yuni Kristyaningsih Pramudhaningrat



Bulan tidak tampak pagi ini.

Aku sangat suka bulan di pagi hari. Terlihat sangat pucat dan rapuh. Perubahan warna langit di sekitarnya mempertajam kepucatan warna peraknya. Terlihat indah luar biasa. Seperti sebuah obyek dalam lukisan. Mungkin karena sebentar lagi akan tidak terlihat makanya jadi indah. Barangkali sisa waktu yang singkat membuat keindahan terpancar dengan cara yang lebih intens. Setiap melihat bulan di pagi hari aku berpikir perpisahan tidaklah selalu harus diwarnai dengan kesan yang menyedihkan. Barangkali aku seorang dengan hati yang rawan dan sentimentil atau mungkin juga aku memang punya suatu perasaan tertentu terhadap sebuah perpisahan.

Bulan tidak tampak pagi ini.

“Tidak bisa tidur lagi?”

Aku sedang duduk di relung jendela, memandangi langit, ketika kulihat dia datang. Gaun tidur putihnya melambai-lambai. Betapa bagusnya seandainya dia menjadi bagian dari bintang-bintang itu. Sesuatu selalu kelihatan lebih indah jika dipandang dari kejauhan.

“Bukan tidak bisa tidur,” kataku, “hanya tetap bangun.”

Dia menyodorkan segelas minuman hangat. Ketika kuminum ternyata rasanya agak asam.

“Lemon peras dan madu. Untuk flumu,” katanya.

“Kurasa ini tidak manjur lagi untukku.”

“Biasanya selalu manjur.”

“Kalau flu aku minum wine, red wine lebih bagus, yang dipanaskan.”

“Seharusnya kau tidak minum itu.”

“Aku tidak punya waktu untuk sakit.”

Kudengar suara tawanya yang lembut.

Bulan benar-benar tidak tampak pagi ini. Bulan seperti seorang aktris yang sangat profesional. Kedatangan dan kepergiannya, kemunculan dan kelenyapannya sesuai benar dengan skenario. Dia begitu menghayati bagaimana dia harus tampil dengan glamour dan sangat menawan ketika sedang purnama. Dia juga meresapi benar bagaimana cara menghilang dengan begitu bergaya saat bulan mati. Entah apakah dia mendapatkan kebahagiaan dan ketenaran dengan membuat orang terpukau, terpesona dan terluka karena kedatangan dan kepergiannya.

“Kau menulis puisi tentang ini?” Aku bertanya. Aku tahu dia menulis puisi tentang apa saja. Tentang bunga dan capung, tentang sungai dan daun yang luruh, tentang hujan dan rumput, tentang semuanya.

“Apa?”

“Bulan di pagi hari.”

“Puisi rasanya tidak. Hanya percakapan dua orang dalam novelku. Seorang penjual kue serabi dan suaminya. Kau mau kukutip kata-kata mereka?”

“Tidak. Aku tidak membaca novel.”

“Sayang sekali,” katanya. Lalu dia melihat ke langit dan merenung-renung. “Tidakkah kau berpikir kalau bulan di pagi hari itu seperti menambahkan saus sambal di atas telur mata sapi?”

“Saus sambal di telur mata sapi?”

“Membuat perut mual.”

“Apa?”

“Ini menyedihkan, honey. Benar-benar menyedihkan. Tidakkah kau tahu? Memandang bulan di pagi hari. You are hopeless.”

Aku meminum minuman di gelasku. “Apa yang salah dari mengagumi sesuatu yang indah?”

“Karena bisa mengantarmu pada banyak hal.”

“Kurasa itu sesuatu yang menyenangkan.”

“Kurasa itu berarti masalah.”

Kulihat langit mulai menampakkan warna birunya dengan perlahan kecuali pada bagian timur karena warna matahari mengubah warna langit menjadi keemasan.

“Aku pergi hari ini.”

“Kau seharusnya tetap disini menjagaku.”

“Aku tidak bisa menjaga orang lain. Aku bahkan tidak bisa menjaga diriku sendiri.”

“Kau bisa menemani aku.”

“Setiap orang pada akhirnya harus seorang diri.”

“Kalau kau anakku kau tidak akan selalu pergi.”

“Aku selalu pergi karena aku bukan anakmu.”

“Aku berharap kau anakku.”

“I am not.”

Ayahku dan wanita ini bersahabat. Ibuku dan wanita ini hamil pada saat yang bersamaan. Ibuku berhasil melahirkan aku meski dengan susah payah tapi wanita ini sakit dan anaknya meninggal. Dia terlalu sakit untuk bisa mempunyai anak lagi. Ayahku bilang luka di hatinya karena kematian anaknya tidak pernah dapat disembuhkan. Aku selalu membuat wanita ini teringat pada anaknya. Tiap tahun, di hari ulang tahunku, sejak ulang tahunku yang pertama, dia mengirimkan hadiah untukku. Dan selalu disertai sebuah puisi. Selalu puisi yang sama setiap tahunnya.



I dreamt that I dwelt in marble halls

With vassals and serfs at my side

And of all who assembled within those walls

That I was the hope and the pride.



I had riches too great to count, could boast

Of a high ancestral name

But I also dreamt, which pleased me most

That you loved me still the same.



Dia selalu memanggilku Almira, nama yang dia siapkan untuk anak perempuannya, bayinya yang meninggal itu kembar laki-laki dan perempuan, padahal namaku bukan Almira. Kepada semua orang dia mengenalkan aku sebagai Almira, puterinya. Menurutku itu memalukan. Mengakui puteri orang lain sebagai puterinya. Tapi dia tidak kelihatan merasa malu.

Ibuku menyuruhku mengunjunginya paling tidak sekali dalam setahun. “Bersikaplah manis padanya. Selalu jaga tata krama. Dia menaruh hormat hanya pada orang yang tahu bagaimana menjaga sikap.” Begitu pesan ibuku setiap aku mau mengunjunginya. Kurasa ibuku akan pingsan seandainya tahu aku memanggil wanita itu dengan kau saja dan bukannya anda. Kepada ibuku wanita itu selalu berkata “ Almira is really a sweetheart.” Dan ibuku tentu saja percaya.

Wanita itu berlidah tajam. Dia tidak pernah kesulitan mengatakan apapun yang ada di dalam pikirannya. Dia tidak pernah berkata kasar tapi mengatakannya dengan cara yang membuat orang merasa telah melakukan perbuatan yang tolol. Waktu umurku lima belas tahun, dan sedang mengunjunginya selama dua minggu, suatu hari aku bertemu seorang anak laki-laki yang menjengkelkan. Begitu menjengkelkannya hingga aku terdorong untuk memukulnya. Waktu aku pulang dengan baju penuh lumpur wanita itu memandangiku tanpa mengatakan apa-apa.

Aku yang tidak mau dikatakan berbuat hal yang konyol berkata, “ Aku memukul orang yang pantas dipukul.”

“Seorang raden ajeng tidak berbuat seperti itu.”

“Aku bukan raden ajeng.”

“Apakah itu pantas disyukuri?” Dia mengucapkan pertanyaan itu dengan raut wajah yang menurutku lebih menjengkelkan dari raut wajah Mr Bean ketika menyebabkan kesusahan orang lain.

Saat semuanya baik-baik saja dia adalah seorang wanita yang manis. Tapi ketika ada yang tidak beres hal pertama yang dia lakukan adalah melihat apa penyebab ketidakberesan itu dan memastikan orang yang melakukannya bertanggungjawab. Kurasa dia adalah jenis orang yang membuat orang lain enggan berurusan dengannya.

Dia adalah gabungan yang aneh dari intelektualitas, selera humor yang sarkastis dan keinginan yang kuat untuk membekukan waktu. Dia lulusan sebuah perguruan tinggi di Inggris, menguasai beberapa bahasa dan sangat suka membaca buku tapi dia masih memakai kebaya sutera dan kain batik dan masih menempatkan dirinya dalam posisi konvensional sebagai seorang wanita.

Dia menetapkan standar yang tinggi atas segala sesuatu. Tata kramanya tidak ada cacat celanya. Dan itu bukan tanpa sebab. Ayah dari kakek buyutnya adalah raja yang pernah berkuasa di sebuah monarki kecil di tanah Jawa. Aku pernah iseng memasukkan nama ayah dari kakek buyutnya itu ke search engine Google dan mendapat ulasan yang panjang lebar tentang seorang pria yang dilukis sedang duduk di singgasana. Rumah yang ditempati keluarga wanita itu sebenarnya adalah rumah pemberian pria itu kepada salah satu puterinya. Berada di dalam rumah itu membuatku merasa mendengar bunyi gamelan ditabuh dengan irama yang menghanyutkan dari sebuah lagu dari masa yang jauh.

“Kenapa kau selalu pergi?”

“Because I have to.”

“Apakah kau tidak mencintaiku?”

Suatu hari wanita itu memberiku hadiah kalung dari berlian dan ruby, aku lahir di bulan Desember dan birthstone untuk bulan Desember katanya adalah ruby. Aku yang merasa tidak melakukan hal yang layak membuatku diberi hadiah semacam itu tentu terheran-heran. Wanita itu berkata “Seorang wanita harus memakai perhiasan terutama ketika dia memasuki usia dimana dia sudah pantas menerima lamaran pernikahan.”

“Apa kau juga mau mengatur pernikahanku?” Meski tidak terlalu terkejut aku merasa itu adalah sebuah kekurangajaran. “Itu tindakan kriminal.”

“Tidak. Hanya memastikan kamu tampil sebagaimana yang seharusnya.”

“Kau melakukan ini karena aku puteri ayahku?”

“Sebagai pribadi kau istimewa.”

“Kau mencintai ayahku?

“Tentu saja.”

“Kenapa tidak menikah dengannya?”

Dia memandangiku seolah pertanyaan itu sangat aneh. “Kenapa aku harus menikah dengannya?” Dia memperlihatkan raut muka heran. Lalu kerutan di alisnya menghilang. “Aku menaruh rasa hormat pada ayahmu. Jangan merusaknya dengan sebuah kata yang tidak tepat penggunaannya.”

Sejak itu aku tahu bahwa penyebab, rupa dan perwujudan cinta itu bisa begitu partikular di dunia ini.

“Apakah kau tidak mencintaiku?” Dia mengulang pertanyaannya.

“Barangkali aku memahami cinta seperti caramu memahaminya,” kataku, “maka dari itu aku selalu harus pergi meninggalkanmu. Kau selalu membiarkan orang yang sangat mencintaimu pergi meninggalkanmu, kan? Seharusnya kepergianku bukan sebuah masalah.”

Beberapa tahun setelah anaknya meninggal, suatu pagi wanita itu bangun, mengepaki barangnya lalu pergi dari rumah suaminya dan kembali ke rumah keluarganya. Ketika suaminya menjemput dia cuma berkata, “Aku adalah ketidakadilan bagimu.” Mereka berpisah tanpa sebuah perceraian.

Pria itu sangat mencintainya dan selalu berbuat baik kepadanya. Tetapi bahkan seorang pencinta yang paling gila sekalipun tidak selalu bisa bertahan menghadapi sebuah kesendirian. Dua tahun kemudian pria itu menikahi seorang wanita dan memiliki anak darinya. Sempat kusangka itu akan membuatnya kehilangan rasa hormatnya kepada pria itu untuk selama-lamanya tapi ternyata dia tetap datang menemani pria itu dalam acara-acara keluarga, menghadapi semua orang dengan gayanya yang elegan dan bersikap sebagaimana layaknya seorang puteri. Menurutku dia wanita paling tolol di dunia.

“Sebuah kepergian selalu adalah sebuah masalah, Almira.” Dia memandang langit yang mulai terlihat berwarna biru. “Aku tidak pernah yakin apa kau akan pulang.”

“Selama ini aku selalu pulang.”

“Kita tidak tahu apa yang akan terjadi kemudian. Itulah kenapa kita punya rasa kekhawatiran.” Dia menyentuh ujung rambutku yang bergelombang dan kucat warna cokelat. “Kau tidak tahu apa yang kurasakan saat melihatmu pergi.”

“Aku bisa pergi saat kau tidur.”

Padahal aku tidak pernah bisa tinggal bersamanya. Aku selalu ingin pulang kepadanya namun begitu sudah melihat wajahnya aku ingin segera pergi.

“Kau tahu kenapa aku selalu ingin pergi?”

“Karena kau tidak cukup mencintaiku untuk bisa tinggal bersamaku?”

“Karena kau seperti ayahku. Kau bicara seperti caranya bicara. Kau berpikir seperti caranya berpikir. Kau bahkan benci telur mata sapi seperti dia membencinya. Barangkali semua itu yang menyebabkan kalian menjadi sahabat, bahwa kalian sangat mirip satu sama lain. Tapi itu juga yang menyebabkan aku tidak bisa tinggal bersamamu sekaligus juga tidak bisa benar-benar meninggalkanmu.” Aku mengusap bibir gelas dengan jariku. “Aku membicarakan ini dengan profesorku. Katanya itu adalah perasaan seorang anak. Aku tidak mengerti. Aku kan bukan anakmu.”

Dia tidak mengatakan apa-apa. Langit sudah cukup terang sehingga warna biru langitnya sudah benar-benar dapat terlihat. Udara pagi membuat hidungku lega dan kepalaku menjadi ringan. Mungkin fluku telah dikalahkan oleh perasan lemon dan madu.

“Akan kubuatkan sarapan,” katanya ketika langit telah benar-benar terang. “Seseorang tidak seharusnya pergi dengan perut kosong. How would you like your eggs?”

“Sunny side up, please.”

“Aku sangat heran dengan selera makanmu itu.”

Aku tertawa.

Bulan tidak tampak pagi ini dan kurasa itu bukanlah sebuah masalah yang perlu dibesar-besarkan.


Catatan:

1. Puisi dalam cerpen ini dikutip dari lagu I dreamt that I dwelt yang terdapat dalam salah satu cerpennya James Joyce.

2. Pernyataan tentang cinta dikutip dari buku Bermain-main Dengan Cinta karya Bagus Takwin. Kutipan lengkapnya adalah Ada cinta di dunia itu universal; tetapi seperti apa cinta dan dari mana asalnya itu partikular

3. How would you like your eggs? adalah pertanyaan yang biasa ditanyakan oleh pelayan restoran ketika seseorang memesan sarapan dengan menu telur mata sapi (Eil de Boeuf) Merupakan pertanyaan untuk menanyakan tingkat kematangan kuning telur yang diinginkan

4. Sunny side up adalah telur mata sapi yang dimasak dengan cara telur dipecahkan di atas penggorengan, telur tidak dibalik, kuning telur masih utuh dan masih encer di dalam. Supaya tidak terlalu mentah kuning telur ini sering diperciki minyak atau lelehan mentega.


Cerpen ini dimuat di Majalah Horison edisi Pebruari 2011

Sebenarnya Aku Mencintaimu Hanya Saja Aku Tidak Mengatakannya

Oleh Yuni Kristyaningsih

Itu berkaitan dengan harga diri. Ya, itu benar. Seseorang memang harus menghadapimu dengan martabat dan harga diri supaya kamu tidak menganggapnya sampah. Mencintai dan dicintai adalah masalah bagiku. Karena apapun yang kau dapat harus selalu kau bayar baik secara tunai maupun kredit. Dunia ini persis pasar, ya kan? Apapun harus ada transaksi yang jelas. Kalau tidak maka kamu jadi pencuri. Hukuman bagi pencuri itu sudah jelas. Jika ada empat orang saksi, kamu sudah pantas tidak memiliki tangan lagi. Tapi sampai saat ini aku belum juga mengerti apa hukuman yang pantas untuk seseorang yang mencuri kepolosan hati.

Setelah bertemu denganmu aku tidak polos lagi tapi aku tidak bisa menuduhmu mencuri. Tidak ada bukti. Tidak ada saksi. Hanya Tuhan saja yang tahu bagaimana kamu menarik hatiku hingga aku tidak memilikinya lagi.

Orang yang tak memiliki hati pasti dia bukan manusia lagi. Tapi entahlah. Setelah hatiku kau curi aku malah jadi lebih manusiawi.

Aku sedang membangun mimpi mengenai mengenai suatu negeri ketika kamu datang.

Kerajaan itu berada di sebuah lembah. Lembah yang sangat subur dan damai. Disana kamu bisa menemukan hutan pinus, sungai sejernih air mineral, padang berselimutkan bunga rumput berwarna kuning dan ilalang berbunga putih, ladang-ladang subur dan orang-orang yang ramah.

Di kerajaan itu aku adalah seorang puteri. Aku tinggal di kastil dengan puncak menara seperti siung bawang. Kalau kau menginap disana kau harus mengikatkan sehelai sapu tangan biru di pegangan pintumu agar kamu tidak kembali ke kamar yang salah.

Disana aku dihomati dan disayangi walaupun mungkn diluar sana au adalah nobody. Kurasa aku memiliki apa yang diinginkan para wanita. Kecantikan, kekayaan, harga diri dan benda-benda yang bisa disayangi atau dipakai tidak lebih dari sekali atau dimiliki sekedar untuk koleksi.

Tiap hari aku mengerjakan apa saja yang kusenangi: memetik bunga, menyulam, melukis, menulis surat, menari, menunggang kuda dan mendengarkan orang-orang bercanda.

Saat rambutku memanjang menjadi puluhan senti, saat aku mulai kehilangan apa yang disebut sebagai rona kekanakan di pipiku, saat lingkar dadaku mulai bertambah dari hari ke hari, aku mulai berkhayal tentang seorang pangeran yang menunggang kuda liar berwarna hitam bersurai panjang. Jubah kebesarannya berwarna hitam. Dia selalu membawa pedang yang bergagang batu garnet ungu tua. Rambutnya hitam seperti langit malam dan matanya pun hitam seperti buah zaitun yang masak. Kami bertemu di sebuah pertarungan melawan raksasa lalu kami jatuh cinta, menikah dan hidup bahagia selamanya.

Tapi aku lupa memikirkan bahwa perlu ada bagian buruk dalam sebuah cerita agar bisa disebut menarik. Lagipula tak ada orang yang bisa selalu datang pada saat dibutuhkan atau mengatakan sesuatu persis seperti yang ingin didengar atau memberi sesuatu yang diidamkan tanpa diberi petunjuk lebih dulu. Sementara aku ingin semua berlangsung tanpa perlu berkata. Tentu saja tidak ada orang seperti itu. Tapi mempertimbangkan sesuatu dengan otak adalah kelemahan seorang pemimpi. Sepertiku.

Pada saat kamu datang kukira mimpi telah jadi kenyataan tapi perlu banyak waktu bagiku untuk menyadari bahwa kau telah menghancurkan mimpiku.

Kamu datang persis seperti pangeran itu. Dengan mata buah zaitun dan jaket hitam seperti mafia. Entahlah tapi sepertinya kamu menyembunyikan sesuatu di balik bajumu. AK-47 semi otomatis atau mungkin Magnum 44.

Waktu itu aku sedang bermain di padang, merangkai tangkai demi tangkai bunga rumput menjadi mahkota. Sendirian saja. Sendirian membuatku lebih bisa berpikir jernih. Orang bilang wanita tidak bisa menggunakan otaknya dengan benar tapi aku sungguh-sungguh bisa berpikir.

Kamu muncul dari balik rumput ilalang. Melihatku. Menatapiku. Mendekatiku.

“Kamu siapa?” tanyaku.

“Seseorang.”

Lalu kekuatanmu membuat pita-pita yang terpasang di rambut dan gaunku berserakan kemana-mana.

“Kau berhutang budi padaku,” katamu, “karena hari ini aku membiarkanmu hidup. Akan kupastikan kau membayarnya nanti.”

Kamu mengambil mahkota bunga yang baru saja kubuat dan memasangnya di kepalamu seolah-olah kamu adalah raja lalu setelah itu kamu pergi.

Besoknya kamu menemui ayahku. “Aku ingin menikah dengan puteri anda,” katamu yang kudengar dari atas tangga.

Semula ayah menolak tapi kamu memaksa. “Anda akan menikahkan kami dengan sukarela atau dengan terpaksa?”

Malam setelah kamu menikahiku terjadi badai. Tangkai-tangkai bunga patah, rumput-rumput tercabut dan sungai meluap. Tapi paginya, saat jendela-jendela mulai dibuka, matahari bersinar keemasan dan semuanya memulihkan diri dengan sangat cepat menjadi seperti tidak terjadi apa-apa.

Tapi aku kan manusia. Tidak pernah bisa pulih dengan sendirinya.

Kamu membawaku ke kastil yang lain. Dua kali lebih megah. Dua kali lebih indah. Seratus kali lebih suram. Seratus kali lebih menakutkan.

Kamu membuat garis di lantai pada hari pertama aku datang lalu menyusun mutiara-mutiara air tawar di sepanjang garis itu.

“Ini adalah garis hidup. Hidupmu,” katamu. “Kau tidak punya hak untuk keluar karena keluar berarti mati. Mengerti?”

Tiap hari kau memeriksa garis itu dan ketika mendapati mutiara-mutiara itu bergeser atau hilang maka kamu pun berubah menjadi setan.

Kamu menganggap aku adalah milikmu padahal kamu tidak punya alasan untuk itu. Meskipun kamu menikahiku. Bahkan meskipun seandainya aku mencintaimu. Aku tak mengenal cinta. Aku hanya mengenal dirimu. Tapi cinta dan dirimu tentunya sangat berbeda.

Suatu kali aku melongok ke luar jendela. Nun jauh disana, di balik tembok kastil ada seseorang yang sedang memancing bersama seorang anak kecil. Kelihatannya mereka menganggap kegiatan itu sebagai suatu hal yang menyenangkan. Kadang mereka tertawa bersama, kadang berangkulan lalu ketika matahari hampir tenggelam mereka berjalan pulang sambil bergandengan tangan menyusuri tepian padang ilalang.

Aku memandangi mereka. Tersenyum. Mereka adalah pemandangan indah. Kemudian aku melukisnya. Menggambar helai demi helai rumput di dekat mereka, melukiskan setiap riak danau, mewujudkan bagaimana angin mempermainkan rambut mereka, berusaha membuat nyata sebuah keindahan.

Tiap kali melihat mereka aku tersenyum. Kadang juga tertawa. Kebahagiaan mereka begitu besar sampai tertular padaku.

Kusembunyikan lukisan itu di gudang. Hanya kadang-kadang kalau aku perlu tersenyum aku melihatnya.

Suatu ketika aku menemukan lukisan itu berceceran menjadi beberapa bagian dan kamu ada disana memagang sebuah pedang berkilau perak.

“Siapa itu yang kau coba sembunyikan di kegelapan hatimu?” tanyamu.

“Hanya seseorang yang berbahagia,” jawabku.

“Kebahagiaan adalah adonan roti. Kau tinggal mencetaknya di loyang lalu memanggangnya. Kau bisa menghiasnya dengan stroberi atau kiwi. Lalu selesai.”

“Terlalu banyak dicampur ragi sehingga menjadi asam.”

Lalu dengan hati terbakar-bakar kamu mengobrak-abrik semua barang. Mengacungkan pedang di depan hidungku.

“Apakah dia lebih berharga dari nyawamu?”

Kemudian setelah itu musim dingin datang dalam hidupku. Kamu yang membuatnya terasa seperti itu.

Aku berusaha melongok ke luar jendela. Berusaha menemukan pemandangan indah itu. Tapi tidak ada.

Kamu tertawa di belakangku. “Sekarang sel-selnya mungkin sedang menghidupi bunga-bunga teratai.”

Aku menangis. “Kenapa kau membenciku?”

“Karena kau tidak menyerahkan cintamu kepadaku.”

Lebih baik aku mati daripada harus mengatakan aku mencintaimu.

Dulu seseorang sepertimu pernah datang pada nenekku. Mereka bernyanyi di padang dan nenek membiarkan hatinya dicuri.

Nenek memujanya dan mereka sering berbagi matahari tenggelam di ujung padang. Lalu pria itu pergi dan tak pernah kembali. Orang-orang tutup mulut mengenai hal ini tapi aku tahu itu terjadi karena nenek membiarkan pria itu tahu kalau dia mencintainya. Sekarang hari-harinya berakhir seperti menanti matahari bertemu dengan rembulan.

Cinta adalah iblis yang membuat hatimu seperti sarang termit dengan permukaan yang tergerogoti dalam bentuk mengerikan.

Meski sedikit, bersamamu ada juga waktunya untuk tertawa.

Di suatu fajar yang buta, aku memanjat atap loteng yang curam. Kaki telanjangku terasa kaku oleh embun yang hampir mencapai titik beku. Aku merasa sangat senang kalau bisa meluncur dari ata sini. Kemudian tiba-tiba kamu muncul. Tampangmu mirip Vlad Dracul haus darah.

“Kemari kau!” teriakmu. Padahal kakiku telah membeku.

Dengan marah kamu menyambar tanganku. Katamu, “Kau tak punya hak untuk pergi. Meskipun mati kau tetap tak boleh beranjak dari sisiku.”

Lalu dalam pelukanmu aku bergulingan menuju tanah. fajar pertama pecah di langit dan dalam adegan slow motion itu aku melihat ekspresi yang berubah-ubah di matamu. Lucu. Aku tertawa. Beberapa waktu kemudian dan banyak waktu sesudahnya aku harus tetap berada di atas ranjang dengan pengawasan dokter. Banyak sekali rasa sakit tapi melihatmu aku ingin tertawa. Kamu mau mati bersamaku benar-benar adalah sebuah lawakan yang sangat lucu.

Suatu kali aku melihatmu datang. Dengan kemeja putih bernoda darah dari ujung pisau di tanganku.

Dengan darah itu aku bisa memberitahumu kalau aku mencintaimu. Darah adalah cairan dengan kepekatan sempurna untuk tinta. Tunggulah beberapa detik lalu tulisan itu akan seindah grafitti. Lagipula aku hanya bisa membuat kaligrafi dan bukannya simfoni. Kamu bukan maestro yang peka mendengar nada indah sedangkan aku ini tak bisa bicara. Tapi kamu letakkan pikiranmu dalam pikiranku dan kuusung hatimu dalam hatiku.

Hanya sayang sekali kalau kamu kemudian mati.

Saturday, 8 March 2014

Aku, Djenar dan Taufan


Oleh Yuni Kristyaningsih

Aku bukan orang yang kuat. Gambarannya seperti ini: satu persen kekuatanku dikucilkan oleh sembilan puluh sembilan persen kelemahan. Makanya aku hancur setelah Taufan mengkhianatiku. Hancur. Seperti cokelat batangan yang leleh terkena hangatnya lidah, kerasnya email gigi dan asamnya hasil ekskresi kelenjar saliva.

Aku tak mampu mencintai seseorang selain diriku sendiri. Dan Taufan adalah bayangan yang selalu kulihat di cermin saat aku menghitung jumlah bulu mataku yang jatuh hari itu. Dia adalah diriku. Walau dia laki-laki dan aku perempuan. Aku mencintainya dengan satu dan lain cara. Walau aku tak bisa membuktikannya. Tidak dengan perbuatan dan ucapan bahkan tidak dengan pikiran. Tapi aku merasa konsep cintaku ada. Walau absurd. Walau utopis. Tapi ada.

Dia tak pernah mengatakan dia mencintaiku. Mungkin dia memang tidak mencintaiku. Tapi apa bedanya. Banyak orang yang mengaku mencintaiku tapi melakukan hal yang sama seperti mereka yang membenciku. Aku menganggap kata-kata adalah jebakan. Dan Taufan memakai kediaman seperti orang lain menggunakan kata-kata. Dia memang belajar bagaimana menyatakan sesuatu, memahami dan mencari tahu tapi pengakuan adalah kelemahan kami berdua.

Aku tidak bersahabat dengan manusia. Mereka aneh. Jika diharapkan berlaku manis seperti pangeran dan puteri dalam dongeng pengantar tidur, mereka menipu dan berbuat kejahatan. Tapi jika diduga seculas Machbeth-nya Shakespeare, ternyata mereka menyayang dalam kebaikan. Aneh sekali. Aku jadi pusing. Dan memilih sendirian. Tapi aku tak pernah kesepian. Karena alam menemaniku. Dan juga Taufan.

Aku pecinta kebebasan. Sedang Taufan sangat memujanya. Itu satu-satunya perbedaan kami. Tapi aku tidak menyadarinya. Karena apa? Sebab saat itu aku masih sangat muda.

Aku suka naik ke atap jika perjalanan ke alam khayaliku sudah sampai pada episode yang membosankan, atau saat bola mataku sudah terlalu keruh sehingga harus dicuci dengan air mata, atau saat sistem tubuhku dialiri banjir bah hormon endorphin.

Taufan ada disana juga (biasanya dia sampai setelah merambati pergola yang rimbun). Membentangkan tangan, menatap langit dan memenuhi paket alveoli dadanya dengan udara.

Dia mengulurkan tangan padaku. “Kemarilah, Pipit Mungilku.” Nada suaranya tidak jelas apakah permintaan, bujukan atau perintah. Aku tidak tahu. Dan juga tidak peduli. “Terbanglah bersamaku, Burung Kecilku. Mari kita hitung berapa jumlah gumpalan awan. Ayo kita lihat barangkali saja akan ada aurora atau gerhana. Ayo kita cari asal aroma wangi itu, apakah benar dari melati ataukah telah bercampur dengan gardenia. Ayo.”

Aku pun menyambut ulurannya. Lalu kami terbang berdua. Meniru sifat udara yang dengan kurang ajar memasuki semua celah tak berpenghuni.

Tapi saat itu aku masih sangat muda.

Suatu ketika aku melihatnya menyandang ransel. Dua koper, satu hitam dan satunya cokelat berdiri di dekat kakinya. Dan sopir taksi telah membuka pintu bagasi.

Aku heran. Dia tidak pernah terbang tanpaku.

“Aku pergi, Pipit Mungilku,” katanya. Sambil bercanda dia bercerita kalau dalam empat tahun ke depan (mungkin setengah tahun lebih awal atau lebih akhir) dia berkewajiban memenuhi lipatan-lipatan otaknya dengan deterjen pencuci bernama ilmu, membiasakan tangannya bekerja sana dengan imajinasi dan kecerdasannya untuk membuat sebentuk mesin baru yang rumit. Dan sebagai tanda terimanya adalah dua huruf, I dan r, di depan namanya.

“Jangan menangis.” Dia menunduk, menghisap air murni yang keluar dari mataku. “Aku ini badai. Aku bisa datang kapan saja. Di hari terik atau hari hujan. Di laut atau daratan. Aku tak terhalangi, Burung Kecilku. Sedang kau adalah titik tengah pusaran badaiku jadi jangan menangis.”

Aku tahu Taufan adalah angin ribut. Mula-mula bertiup sepoi-sepoi lalu menghantam dan menggulung. Dia sangat berbahaya bagi serangga dan tangkai bunga. Jika tidak hati-hati dia dapat dengan mudah menelannya dalam arusnya. Tapi ada juga yang suka menari dalam pusaran badai. Aku.

Tapi saat itu aku masih sangat muda. Dan belum mengenal cinta.

Begitu cinta berada dalam pelukanku badai jadi terasa sangat menyakitkan.

Saat umurku dua puluh tahun, ayahku menikahkan aku dengan Djenar. Pemuda dengan wajah dan perawakan mirip pangeran dalam cerita Sleeping Beauty yang musik pengiringnya selalu memenuhi kamarku tiap malam sejak aku masih kecil. Senyum dan sinr matanya menyenangkan hatiku. Tiap pagi dia mengucapkan good morrow dari sisi ranjangku dan membuatku merasa telah terbebas dari sihir. Dia menjadikan aku puteri walau aku bukan puteri.

Djenar menyuguhkan hidangan baru bagiku. Cinta. Cinta yang menghangatkan seperti selimut. Dia mengajariku mata pelajaran baru. Pelajaran menjadi perempuan. Yang rumit tapi menyenangkan. Dia memberiku rumah baru. Sangkar dari emas. Perkawinan. Yang pengap tapi membebaskan.

Aku bahagia.

Tapi Taufan tidak menyukai Djenar. Sang badai tidak mnyukai sangkar. Aku tak mengerti. Bukankah Djenar baik? Tapi Taufan tetap membencinya.

“Kau mengkhianatiku!” teriaknya. Sebuah sore yang indah. Matahari jingga berada di belakang punggungnya. Telapak kakinya meninggalkan jejak di antara tangkai bunga rumput berdaun lembut.

Ketika itu dia sendirian. Aku juga. Sedang Djenar, sang pemilik sangkar, tidak bersamaku. Badai datang dan aku tanpa sangkarku? Tenang. Bukankah aku ini burung? Aku bisa terbang menghindar.

“Aku tidak melakukan apa-apa,” kataku.

“Kau biarkan lelaki itu mengurungmu padahal kau adalah burung kecilku.”

“Tetapi dia suamiku.”

Kulihat bara api pecah di matanya. “Hanya aku yang boleh memilikimu. Badai. Aku.”

“Tetapi aku miliknya.”

Kudengar dia mengerang. Lalu tiba-tiba dia berubah menjadi tornado. Badaiku menjadi badai. Dia menggulung dan menghisap. Dan aku tepat berada di titik tengahnya. Biasanya aku menari disana tapi sekarang aku tidak suka. Jadi aku terbang menghindar. Tampak seluruhnya menyatu dengan badai untuk membinasakan aku. Tapi aku adalah pejuang sejati, jadi aku terbang, terbang dan terbang. Namun aku terlambat menyadari bahwa badai kali ini berbeda. Dia lebih kuat, lebih jahat dan lebih menghancurkan. Dia melingkupi duniaku sampai aku menjadi sesak, tulang-tulangku remuk dan akhirnya aku lumat menjadi serpihan sel-sel yang tercecer.

Ketika matahari tenggelam, saat dia menjadikan bajunya sebagai buluku dan kedua lengannya sebagai sayapku, kesadaran meninggalkan aku. Aku kehilangan seluruh kekuatan dan kemampuan untuk merasa. Aku adalah burung kecil yang telah terpatahkan sayapnya, tercabuti bulunya dan terbelit arus badai.

Aku terbangun di ranjang sang badai. Berharap semuanya hanya ilusi tapi di atas bantal aku menemukan bulu-buluku yang terburai. Rasa itu kembali menyerang seperti hantu.

Susah payah aku bangun dan mencari-cari pisau. Untuk mengiris nadiku sebagai hukuman bagi sang badai.

Tuesday, 2 July 2013

Dodog Wesi





Apalah arti seseorang tanpa ditemani kenang-kenangan dalam hidupnya?


Pertanyaan itu begitu mengganggunya, membuatnya tak mampu memikirkan hal lain.


Dia sedang berbaring di bawah lampu kandil berkerangka kuningan yang dipasang pada dodog wesi, sebatang kayu yang berada di bawah molo, membuatnya berada persis di bawah sudut paling runcing dari atap. Pelayannya sudah menyiapkan kamar untuknya tapi ketika ditawari beristirahat dia menggelar klasa mendong di lantai dan berbaring disana.


“Aku pergi untuk menangis. Jangan berharap aku melakukan hal lain.” Begitu pamitnya pada suaminya sebelum dia pergi. Sejak kemarin dia telah tidak mempedulikan harga dirinya dan membiarkan para pelayannya melihat betapa murungnya dia.


Lampu itu memendarkan cahaya lembut lampu neon yang dipasang di dalamnya. Walau disamarkan dengan baik tapi dia dapat melihat kabel yang melilit di lampu kandil berkerangka kuningan itu. Seseorang pasti bekerja keras demi lampu neon itu. Dulu sewaktu belum ada aliran listrik lampu minyak tanahlah yang dipasang disana. Setiap sore salah satu pelayan keluarganya akan menarik kerekannya dan menyalakan lampu. Di pagi hari kerekannya akan ditarik lagi untuk memadamkan lampu. Saat hari raya lampu akan dinyalakan sepanjang hari.


Segala hal penting terjadi di bawah kayu melintang berukir sulur-sulur tanaman itu itu. Pertemuan-pertemuan keluarga, pembicaraan-pembicaraan penting, akad nikah bahkan jenazah kakeknya dibaringkan dibawahnya sebelum dimakamkan.


Di antara semua bagian rumahnya entah bagaimana dodog wesi itu yang paling melekat di benaknya. Sejak kecil dia punya kebiasaan terserang demam sawan. Demam itu mirip seperti demam biasa hanya bedanya demam itu menyerang jika terjadi hal-hal besar menimpanya atau dia sedang sangat ketakutan akan sesuatu. Ketika dia diberitahu bahwa dia akan dinikahkan dengan seorang pria yang kini menjadi suaminya dia bermimpi pria itu memanjat tiang, mengambil dodog wesi rumahnya dan membawanya pergi entah kemana. Dia mengalami demam tinggi dan mengigau. Dia telah dibawa berobat kepada dua orang dokter tapi tidak turun juga demamnya. Pada malam ketujuh dia bermimpi pria itu datang, memanjat naik dan memasang kembali dodog wesi itu di tempatnya. Keesokan harinya dia bangun seakan-akan tidak sedang sakit. Demamnya hilang entah kemana.


Dodog wesi itu bagian dari dirinya. Suaminya telah membangunkan untuknya rumah dengan atap-atap menjulang dengan lengkungan-lengkungan bagian dalamnya dihiasi mozaik-mozaik, lukisan-lukisan dinding dan candelabra kristal buatan Perancis tapi entah bagaimana balok kayu berukir itu selalu berayun-ayun di matanya setiap kali dia mengingat masa kecilnya.


Aku adalah orang yang hidup dengan mengenang-ngenang masa lalu. Dia tak pernah malu mengatakan itu kepada siapapun. Dia tidak merasa malu mengakui kalau dia memiliki khayalan tentang dunia dimana waktu mengekal dan dirinya tetap seorang gadis kecil dari keluarga yang pernah sangat bahagia. Dia juga tidak merasa melakukan hal yang memalukan ketika dirinya menghamburkan kemarahan yang nyaris tidak masuk akal kepada suaminya ketika laki-laki itu menyodorkan cetak biru konstruksi bangunan baru rumah keluarganya. Bangunan baru!


Selama dua tahun belakangan ini suaminya selalu menemukan berbagai fakta untuk menunjukkan betapa buruknya rumah itu. Yang satu selalu membuatnya lebih kesal dari yang sebelumnya.


“Ada rumah rayap di senthong barat. Di musim penghujan mereka membuat lubang di bawah jendela dan laron-laron bermunculan dari sana. Kalau musim kemarau rayap-rayap itu akan memakan kayu.”


Senthong barat adalah kamarnya ketika masih kanak-kanak. Di dalamnya terdapat ranjang bertiang dengan ukir-ukiran berbentuk bunga, sebuah lemari kayu jati, meja tulis yang dapat dilipat dan sebuah kursi dengan dudukan yang dilapisi busa lembut. Dia diperbolehkan tidur di ranjang itu sejak berusia tiga belas tahun, beberapa hari setelah acara tarapan-nya dilangsungkan. Sebelumnya dia tidur ditemani pengasuhnya di kamar yang lain. Dia ingat bagaimana takutnya dia saat pertama kali tidur disana. Dia khawatir ada buto rambut geni muncul dari kolong ranjangnya dan membawanya entah kemana. Di salah satu tiang ranjangnya dia ingat ibunya sering bersandar sambil menangis saat menjaganya pada malam-malam ketika dia sedang sakit. Di lemari itu dia menyimpan mainan-mainannya. Meja lipat dan kursi beralas busa itu adalah temannya belajar.


“Adanya aliran air di dekat pondasi sebuah rumah adalah ide yang buruk. Lantai menjadi terlalu lembab dan itu buruk bagi bahan bangunan berupa kayu.”


Sejak dia mampu mengingat ada saluran air kecil di sepanjang tritisan timur. Air dari sungai mengalir di sepanjang saluran air itu dan tertampung di belik kecil di belakang rumah. Air itu menjadi sangat jernih disana. Kodok, endol kecil bersisik warna pelangi dan hydrilla tumbuh disana. Mereka menggunakan air itu untuk mandi dan menyirami tanaman. Petak-petak bayam, kenikir, kacang panjang, cabai, tomat dan sayuran lain menghijau sepanjang tahun selama belik itu penuh. Orang akan saling membunuh demi mendapatkan aliran air seperti itu. Seharusnya.


“Lapisan pertama lantainya terbuat dari tanah. Itu yang menjadikan lantai semennya mengeluarkan rembesan air di musim penghujan. Penambalan tidak bisa memperbaiki keadaan. Yang bisa dilakukan adalah meninggikan pondasinya.”


Keluarganya memakai lantai untuk kegiatan sosial. Jika ada acara, apapun itu, kursi-kursi akan disingkirkan ke gudang dan klasa-klasa mendong digelar di atas lapisan lampit, dan semua orang, apakah itu tamu kehormatan atau tamu biasa akan duduk di atasnya. Di atasnya pula sehari-harinya keluarganya makan dan berbincang-bincang. Dia sendiri memiliki kesenangan dengan lantai itu. Di bagian-bagian tertentu dari lantai rumahnya, bagian yang digosoknya sendiri hingga mengkilat dan berwarna kehijau-hijauan, bagian yang hanya dia sendiri yang tahu persis letaknya, dia bermain bola bekel disana bersama kawan-kawannya.


“Gentingnya sudah rapuh. Fragile. Literally. Seseorang dapat meremukkannya dengan ujung jarinya. Dan kalau boleh aku jujur, labu dan waluh yang kau biarkan merambat ke atap itu memperparah keadaan.”


Ada hari-hari tertentu ketika kakek dan ayahnya menyuruh orang-orang menurunkan sebagian genting untuk membersihkan talang. Pada hari-hari seperti itu ibunya akan memasak jangan gurih sewajan besar dan dia merasa senang hanya dengan melihat betapa orang-orang desa makan dengan begitu lahap.


Di kampung halamannya orang-orang mempunyai kebiasaan menanam sesuatu untuk orang yang dicintai. Labu dan waluh itu ditanam oleh kakeknya untuk istrinya. Labu dan waluh hanya hidup selama semusim tapi mereka memiliki biji yang banyak dan selalu dapat tumbuh lagi lebih besar di musim berikutnya. Apakah ada ungkapan cinta yang lebih romantis dari itu?


“Gedogan itu lebih parah dari yang lain-lainnya. Kalau diperbaiki tentu si Djenar itu tidak akan terpeleset sampai kakinya cedera begitu. Kita seharusnya melapisi tanah disana dengan pasir.”


Istal adalah tempat dimana dia akan bisa menemukan kakeknya jika tidak ada di tempat-tempat yang lain. Kakeknya mencintai kuda dan rasa cinta itu juga menurun kepadanya. Beberapa orang dapat bersaksi kalau kakeknya telah mengajarinya berkuda sejak usianya dua tahun. Kakeknya sering mendudukkannya di bagian depan pelana kudanya lalu berkuda melewati hutan-hutan pinus, memimpin para pekerja yang memikul keranjang-keranjang berisi jeruk keprok yang dia beli dan panen dari kebun-kebun yang jauh. Ketika itu belum ada kendaraan apapun yang bisa digunakan di daerah pegunungan kecuali kuda. Ketika dia sudah besar dia mendapatkan kudanya sendiri dan kakeknya pura-pura saja tidak tahu kalau dia sering melompati rintangan yang kata orang terlalu tinggi untuk seorang wanita.


“Seseorang yang bodoh menabrak loning sampai roboh separo. Orang yang melihatnya mengatakan kalau di dalam temboknya ternyata sudah menjadi tanah.”


Di loning itu saat bulan sedang terang kakeknya biasa duduk bercerita tentang orang-orang dari negeri dongeng seperti Bima, Damarwulan atau yang paling sering tentang Pangeran Samber Nyawa yang merupakan leluhurnya sendiri. Dia dan kawan-kawannya mendengarkan dan percaya bahwa semua yang dikatakannya itu nyata.


Bagaimana dia dapat membiarkan orang menghancurkan semua romansa itu demi sesuatu yang disebut ‘baru’?


“Yang akan kita lakukan bukan renovasi tapi restorasi.” Suaminya sering mengatakan itu. “Rumah itu akan terlihat sama seperti sebelumnya hanya diperkuat.”


“Setelah itu apa? Kau akan menjadikannya hotel lalu orang-orang datang keluar masuk seenaknya dan tidur di kamar kakekku tanpa rasa hormat, begitu?”


“Apa kau bermaksud mengatakan kau ingin tinggal disana?”


“Tentu saja tidak.” Dia tahu dia tidak dapat lagi tinggal disana. Tidak tanpa keluarganya. Dulu, ketika dia masih kecil, ada seorang dokter bodoh yang mengatakan bahwa umurnya tidak akan mencapai usia dua puluh tahun. Tapi ternyata dia berhasil hidup meski dengan susah payah dan malah keluarganya yang satu demi satu meninggalkan dia. Rumah itu terlalu penuh dengan kenangan. Orang yang hidup tidak bisa tinggal di tempat seperti itu.


“Akan lebih baik kalau kita biarkan saja rumah itu rubuh.” Dia telah mengatakan itu puluhan kali. “Kau laki-laki. Tentu saja kau tidak tahu bagaimana perasaanku.” Dia menangis sepanjang malam dan memusuhi suaminya selama berhari-hari.


“Sebenarnya apa yang kau takutkan?” tanya suaminya ketika kemarahannya agak reda. “Jika diperbaiki rumah itu bisa jadi sanggar seni. Kau bisa mengajari anak-anak melukis dan menari. Kau juga dapat membuat program pemberdayaan, entah apa begitu, untuk membantu para wanita disana. Bukankah itu yang juga dilakukan kakekmu?”


“Aku tak mau keluargaku dilupakan,” katanya, menyembunyikan dirinya di lekukan dada suaminya. “Orang-orang mudah sekali lupa. Aku juga pelupa. Aku tidak ingin melupakan apapun. Kemana perginya sesuatu yang dilupakan?”


“Kenangan,” jawab suaminya. “Hal-hal seperti itu, mereka pergi ke dalam kenangan.”


Dia bergumam entah apa. “Dinding semen berhias pecahan-pecahan kaca itu sekarang sudah tidak dijual lagi.”


“Kita akan menemukan yang benar-benar persis seperti itu. Kalau tidak ada aku akan membuatnya.”


Dia menyebutkan lagi beberapa hal yang tak mungkin lagi didapatkan tapi suaminya selalu mengatakan kalau itu bukan tidak mungkin.


Dia memandang balok kayu dengan ukiran sulur-sulur tanaman itu dan merasa mencintainya lebih dari sebelumnya.


Cinta, barangkali, adalah bentuk lain dari keberanian untuk bertahan hidup.


Dia menelepon suaminya. “Suruh kepala proyeknya menemui aku besok. Dan kalau masih mau membuatkan aku water garden seperti yang kaujanjikan itu lebih baik kau segera membeli teratai. Aku mau yang berwarna putih dan ungu.”


Bertahan hidup bahkan meski satu per satu hal-hal indah memudar dan pergi ke tempat dimana seharusnya hal-hal indah itu tinggal dan mengekal yaitu di dalam kenangan.





Catatan :


· Dodog wesi adalah sebutan untuk salah satu balok kayu yang berada dalam rangkaian kerangka rumah tradisional Jawa. Balok kayu ini berada di bawah molo dan membagi keseluruhan kerangka bangunan menjadi dua bagian yang simetris. Biasanya dihiasi dengan ukir-ukiran dan dipakai untuk menempatkan lampu kandil.


· Molo adalah balok kayu mendatar yang berada di puncak atap.


· Klasa mendong adalah tikar yang dibuat dari anyaman tanaman mendong, sejenis tanaman berserat yang tumbuh di rawa-rawa.


· Senthong adalah sebutan untuk kamar-kamar di rumah tradisional Jawa.


· Tarapan adalah upacara yang diadakan bagi anak gadis keturunan bangsawan Jawa yang mengalami datang bulan untuk pertama kalinya. Upacara ini didahului dengan tuguran (berjaga semalam suntuk) kemudian si gadis disuruh makan buah delima putih kukus yang di dalamnya diberi jenitri, juga meminum rebusan daun jungrahab yang diberi gula batu. Tujuh hari kemudian diadakan acara siraman. Si gadis dimandikan dengan berbagai rempah mandi dan rambutnya dikeramasi dengan merang, air asam dan santan kelapa lalu tubuhnya diasapi dengan bakaran ratus dan diberi lulur putih kemudian didandani dengan busana yang indah. Selama upacara si gadis diberi wejangan oleh orang tua dan para sesepuh. Setelah menjalani upacara ini seorang gadis dianggap sudah dewasa.


· Tritisan adalah bagian luar rumah dimana air hujan dari atas jatuh kesana. Biasanya bagian ini dijaga sangat bersih dan tidak boleh menaruh apa-apa disana.


· Belik adalah kolam buatan yang menampung air dari sungai. Biasanya airnya sangat jernih dan sejuk karena telah melewati proses penyaringan lewat tanah. Untuk menghalangi sinar matahari dan menjaganya tetap jernih biasanya orang menaruh tanaman air seperti enceng gondok atau teratai di dalam belik. Di desa-desa belik dipakai untuk keperluan mandi, mencuci dan menyiram tanaman.


· Endol adalah ikan kecil yang biasa hidup di sungai dan perairan. Berwarna putih keperakan, ikan yang jantan ukuran tubuhnya lebih kecil dari yang betina dan memiliki semburat warna pelangi yang indah. Ikan betina memiliki tubuh yang gemuk lucu tanpa semburat warna pelangi. Nama latinnya Nemacheilus panchax.


· Hydrilla adalah tumbuhan yang hidup di dalam perairan air tawar. Tempat hidupnya di dalam perairan yang tenang, bukan di dasar, bukan pula mengambang. Memiliki cara berkembang biak yang unik.


· Lampit adalah anyaman bambu yang biasa dipakai sebagai alas di lantai. Biasanya ukurannya sekitar dua kali tiga meter. Bambunya diraut tipis-tipis dibuat supaya tidak terasa keras ketika diduduki. Di daerah saya lampit seperti ini dibuat oleh wong nggunung, sebutan untuk orang-orang yang tinggal di desa-desa di lereng-lereng gunung. Biasanya dijual dengan dipikul berjalan kaki tapi harganya sangat murah.


· Talang adalah tempat bertemunya ujung atap sebuah rumah. Rumah tradisional di Jawa biasanya terdiri dari beberapa bagian yang berdekatan. Pada pertemuan bagian-bagian itu atapnya disatukan oleh talang. Karena berguna sebagai tempat mengalirkan air saat hujan maka talang ini harus sering dibersihkan agar rumah tidak kebanjiran.


· Jangan gurih adalah nama masakan bersantan. Bahannya dari tempe, tahu dan kadang-kadang kluwih. Dimasak untuk dihidangkan pada acara yang bersifat gotong royong seperti bersih desa, kerja bakti atau membantu salah satu warga. Jangan gurih ini salah satu masakan kesukaan saya.


· Gedogan adalah sebutan untuk kandang kuda atau istal


· Loning adalah bagian dari pagar yang dibuat agak rendah. Setiap rumah di desa saya dulu memiliki sepasang loning berhadap-hadapan di bagian gerbang depan rumah dan dipakai untuk tempat duduk. Orang-orang biasa duduk berbincang-bincang disana pada sore atau malam hari.